KONCOdewe.com – Pembahasan mengenai Tuhan tidak pernah benar-benar selesai.
Sejak zaman para nabi hingga era modern, pertanyaan tentang siapa pencipta alam semesta selalu menjadi bahan diskusi, perdebatan, bahkan penolakan.
Ada yang mengaku percaya kepada Tuhan, ada pula yang menyatakan dirinya ateis.
Namun jika ditelusuri lebih dalam, setiap manusia pada hakikatnya selalu memiliki sesuatu yang dijadikan pusat hidupnya.
Bagi sebagian orang, harta menjadi tujuan utama hingga segala keputusan diukur dari keuntungan materi.
Sebagian lainnya menjadikan jabatan, popularitas, ilmu pengetahuan, bahkan hawa nafsu sebagai sesuatu yang paling ditaati.
Dalam pandangan Islam, kondisi tersebut menunjukkan bahwa manusia selalu memiliki “sesembahan”.
Persoalannya bukan lagi apakah seseorang bertuhan atau tidak, melainkan kepada siapa ia menggantungkan hidup dan kepatuhannya.
Al-Qur’an Menjelaskan Tipu Daya Setan
Islam mengajarkan bahwa keraguan terhadap Tuhan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa setan senantiasa berusaha menggoda manusia agar menjauh dari petunjuk Allah SWT.
Dalam QS Fathir ayat 6, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuh(mu).”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa salah satu cara setan menyesatkan manusia ialah dengan membuatnya sibuk mempertanyakan keberadaan Allah.
Tanpa pernah berusaha mengenal-Nya melalui petunjuk yang telah diberikan.
Tidak Semua “Tuhan” Disebut Tuhan
Di zaman modern, bentuk penyembahan tidak selalu diwujudkan melalui patung atau berhala.
Banyak orang yang tanpa sadar menjadikan kekayaan, kekuasaan, teknologi, bahkan dirinya sendiri sebagai sesuatu yang dianggap paling menentukan hidupnya.
Islam memandang bahwa siapa pun yang tidak menghambakan diri kepada Allah SWT tetap memiliki sesuatu yang dijadikan tempat bergantung.
Oleh karena itu, persoalannya bukan sekadar mengakui adanya Tuhan.
Tetapi memastikan bahwa yang disembah benar-benar Allah SWT, bukan hal-hal duniawi yang bersifat sementara.
Alam Semesta Menjadi Bukti Adanya Sang Pencipta
Salah satu cara sederhana memahami keberadaan Allah adalah melalui tanda-tanda yang ada di sekitar manusia.
Sebagaimana sebuah rumah tidak mungkin berdiri tanpa pembangun, demikian pula alam semesta yang teratur tidak mungkin tercipta tanpa pencipta.
Para ulama sering mengutip ungkapan orang-orang Badui yang sederhana namun penuh makna.
“Jejak kaki menunjukkan ada yang berjalan, kotoran unta menunjukkan adanya unta. Maka alam raya yang begitu sempurna tentu menunjukkan adanya Sang Pencipta Yang Maha Agung.”
Logika sebab-akibat inilah yang menjadi salah satu dasar bahwa segala sesuatu pasti memiliki pencipta.
Dan pada akhirnya bermuara kepada Allah SWT sebagai Musabbibul Asbab, penyebab dari segala sebab.
Para Nabi Juga Pernah Mencari Jawaban
Munculnya pertanyaan tentang Tuhan bukan berarti seseorang memiliki iman yang lemah.
Bahkan para nabi pernah melalui proses pencarian untuk semakin mengenal Allah SWT.
Nabi Ibrahim AS mengamati bintang, bulan, dan matahari sebelum Allah memberikan petunjuk kepadanya.
Nabi Musa AS pernah memohon agar dapat melihat Allah secara langsung.
Namun Allah menjelaskan bahwa manusia tidak akan sanggup melihat-Nya sebagaimana disebutkan dalam QS Al-A’raf ayat 143.
Begitu pula Rasulullah SAW.
Saat menerima wahyu pertama di Gua Hira, beliau mengalami kegelisahan hingga bersama Khadijah mendatangi Waraqah bin Naufal untuk memastikan hakikat wahyu yang diterimanya.
Allah kemudian meneguhkan hati Nabi Muhammad SAW melalui firman-Nya dalam QS Yunus ayat 94, sebagai bentuk penguatan bahwa wahyu yang diterimanya adalah kebenaran.
Allah Sangat Dekat dengan Hamba-Nya
Walaupun manusia tidak mampu melihat zat Allah SWT, Islam mengajarkan bahwa Allah sangat dekat dengan setiap hamba-Nya.
Dalam QS Al-Baqarah ayat 186, Allah berfirman: “Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
Kedekatan tersebut dapat dirasakan melalui doa, ibadah, rasa syukur, dan berbagai nikmat yang diberikan setiap hari.
Udara yang dihirup, pergantian siang dan malam, keteraturan peredaran bulan, hingga kehidupan yang terus berlangsung menjadi bukti nyata kebesaran Allah SWT.
Mengenal Allah Melalui Sifat-Sifat-Nya
Para ulama menjelaskan bahwa manusia tidak diperintahkan membayangkan zat Allah karena kemampuan akal sangat terbatas.
Yang diajarkan dalam Islam adalah mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an dan hadis.
Ulama besar Nusantara, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani, menjelaskan bahwa Allah tidak dibatasi ruang maupun waktu, serta tidak menyerupai makhluk ciptaan-Nya.
Karena itu, manusia diajak merenungi ciptaan-Nya sebagai jalan untuk semakin mengenal kebesaran Sang Khalik.
Pertanyaan Terpenting: Siapa yang Menjadi Tuhan dalam Hidup Anda?
Perdebatan mengenai Tuhan akan terus ada sepanjang zaman.
Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa bukti keberadaan Allah dapat ditemukan melalui tanda-tanda ciptaan-Nya yang begitu sempurna.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Tuhan itu ada, melainkan kepada siapa hati manusia benar-benar bergantung.
Apakah kepada Allah SWT, atau justru kepada harta, jabatan, hawa nafsu, dan kenikmatan dunia.
Allah SWT berfirman dalam QS Asy-Syura ayat 11 bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Pesan tersebut menjadi pengingat agar manusia lebih fokus memperkuat iman, memperbanyak ibadah, serta mensyukuri nikmat yang telah diberikan.
Pada akhirnya, setiap manusia pasti memiliki sesuatu yang menjadi pusat hidupnya.
Pilihan terbesarnya adalah memastikan bahwa satu-satunya yang layak disembah dan dijadikan tempat bergantung hanyalah Allah SWT. (kangtop)











