Tragedi Venezuela Kian Mencekam, Bau Jenazah Mulai Menyebar saat Rumah Sakit Kewalahan Tangani Korban Gempa

Kabar59 Dilihat

KONCOdewe.com – Venezuela kini menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin serius setelah diguncang dua gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 pada pekan lalu.

Di tengah upaya pencarian korban yang masih berlangsung, situasi di berbagai wilayah terdampak kian memprihatinkan.

Rumah sakit kewalahan menangani lonjakan pasien, ribuan warga kehilangan tempat tinggal.

Sementara aroma menyengat dari jenazah yang masih tertimbun reruntuhan mulai tercium di sejumlah kawasan permukiman yang luluh lantak.

Pemerintah Venezuela mencatat sedikitnya 1.700 orang meninggal dunia dan lebih dari 5.000 lainnya mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.

Namun, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.

Bahkan berpotensi mencapai puluhan ribu jiwa jika seluruh wilayah terdampak berhasil didata.

Harapan Menemukan Korban Selamat Kian Menipis

Meski peluang semakin kecil, tim penyelamat masih terus bekerja tanpa henti untuk mencari korban yang diduga masih terjebak di bawah reruntuhan.

Pada Senin, tim SAR asal Ekuador berhasil menyelamatkan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dari puing-puing bangunan di Negara Bagian La Guaira dalam kondisi hidup.

Keberhasilan tersebut menjadi secercah harapan di tengah situasi yang semakin sulit.

Namun para ahli mengingatkan bahwa peluang menemukan penyintas terus menurun setelah masa emas penyelamatan atau golden window pascagempa telah terlampaui.

Di berbagai titik di ibu kota Caracas, bau menyengat dari jasad korban yang belum berhasil dievakuasi mulai memenuhi udara.

Meski demikian, banyak keluarga korban tetap bertahan di sekitar lokasi bangunan yang roboh dengan harapan anggota keluarganya masih dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

BACA:  Gempa Magnitudo 7,5 Hantam Venezuela, 32 Orang Tewas dan Ratusan Terluka, Korban Terus Bertambah

Salah satunya Mirella Herrera yang setiap hari menunggu di depan apartemen putranya yang ambruk. Hingga kini, putra, menantu, dan cucunya belum ditemukan.

“Saya percaya anak saya masih bertahan. Saya yakin dia sedang menunggu kami datang,” ucapnya sambil menahan tangis, dikutip dari CNBC Indonesia.

Rumah Sakit Berjuang di Tengah Keterbatasan

Bencana ini juga memperlihatkan beratnya kondisi layanan kesehatan Venezuela yang sejak lama mengalami tekanan akibat krisis ekonomi.

Di Rumah Sakit Anak Dr. José Manuel de Los Ríos di Caracas, kapasitas ruang perawatan intensif kini menurun drastis.

Dari sebelumnya mampu merawat sekitar sepuluh pasien, kini hanya empat pasien yang dapat ditangani secara maksimal.

Keterbatasan tenaga medis, obat-obatan, hingga ventilator membuat rumah sakit kesulitan menghadapi lonjakan korban.

Salah satu pasien yang dirawat merupakan anak perempuan berusia 12 tahun yang mengalami luka berat setelah tertimpa reruntuhan bangunan bertingkat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut memperingatkan bahwa sistem kesehatan Venezuela berada dalam tekanan luar biasa.

Sejumlah rumah sakit mengalami kelebihan kapasitas, sementara pasokan kebutuhan medis seperti cairan disinfektan dan bahan pembersih mulai menipis.

Laporan terbaru menyebut sedikitnya tiga fasilitas kesehatan mengalami kerusakan berat.

Sedangkan enam rumah sakit lainnya hanya dapat beroperasi secara terbatas akibat dampak gempa.

Krisis Berkepanjangan Memperparah Dampak Bencana

Para tenaga kesehatan menilai buruknya kondisi pelayanan medis bukan hanya dipicu oleh gempa.

Selama lebih dari satu dekade, Venezuela telah menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan akibat berbagai persoalan domestik serta sanksi ekonomi internasional.

Situasi tersebut menyebabkan banyak dokter dan tenaga kesehatan memilih bekerja di luar negeri.

Sehingga kemampuan sistem kesehatan nasional terus melemah bahkan sebelum bencana terjadi.

BACA:  Tak Hanya Pusat Pemerintahan, IKN Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Berkelanjutan

Dampak gempa juga meluas ke sektor pendidikan. Pemerintah memperpanjang penutupan sekolah setelah ratusan bangunan pendidikan mengalami kerusakan.

Di Caracas saja, sedikitnya 432 sekolah dilaporkan terdampak. Sebagian gedung yang masih layak kini dialihfungsikan menjadi tempat penampungan sementara bagi ribuan warga yang kehilangan rumah.

Pemerintah menerapkan sistem penilaian kondisi bangunan menggunakan kode warna.

Bangunan berlabel hijau dinyatakan aman untuk ditempati, kuning menandakan kerusakan sedang, sedangkan merah menunjukkan bangunan tidak lagi layak dihuni.

Hingga kini, banyak warga masih belum diizinkan kembali ke rumah masing-masing karena gempa susulan terus terjadi.

Dan dikhawatirkan dapat memicu runtuhnya bangunan yang sudah mengalami kerusakan.

Bencana yang melanda Venezuela kali ini bukan hanya meninggalkan kerusakan fisik dalam skala besar.

Tetapi juga memperlihatkan rapuhnya infrastruktur dan pelayanan publik yang telah lama tertekan oleh krisis berkepanjangan.

Situasi tersebut membuat proses pemulihan diperkirakan akan membutuhkan waktu yang panjang serta dukungan kemanusiaan dari berbagai pihak. (kangtop)