Masih Bingung Tujuan Hidup? Islam Mengajarkan Jawabannya Dimulai dengan Mengenal Allah SWT

Religi34 Dilihat

KONCOdewe.com – Dalam ajaran Islam, mengenal Allah SWT bukan sekadar bagian dari ilmu agama, tetapi merupakan fondasi utama yang menjadi dasar seluruh keimanan seorang muslim.

Tanpa mengenal Sang Pencipta, manusia akan sulit memahami untuk apa dirinya diciptakan, kepada siapa ia bergantung, dan ke mana tujuan akhir kehidupannya.

Keimanan kepada Allah SWT menempati urutan pertama dalam rukun iman.

Hal ini menunjukkan bahwa seluruh ibadah, amal saleh, maupun akhlak mulia akan memiliki makna apabila diawali dengan keyakinan yang benar kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Allah SWT adalah Pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya.

Dialah yang mengadakan segala sesuatu dari ketiadaan menjadi ada, mengatur perjalanan alam semesta, memberikan rezeki kepada seluruh makhluk, sekaligus menjadi tempat bergantung setiap makhluk tanpa terkecuali.

Keyakinan terhadap keesaan Allah atau tauhid menjadi inti ajaran Islam.

Seorang muslim meyakini bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah SWT.

Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya, dan tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menyaingi kekuasaan-Nya.

Iman sendiri berarti keyakinan yang tertanam kuat di dalam hati, diucapkan dengan lisan, serta dibuktikan melalui amal perbuatan.

Karena itu, mengenal Allah SWT bukan hanya persoalan mengetahui nama-Nya, melainkan memahami kebesaran, sifat-sifat, serta kekuasaan-Nya yang tampak dalam seluruh ciptaan.

Allah SWT juga mengajak manusia menggunakan akal untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ali Imran ayat 190.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.”

Ayat tersebut menjadi dorongan agar manusia tidak sekadar menikmati kehidupan, tetapi juga berpikir mengenai siapa yang menciptakan seluruh keteraturan alam ini.

Mengenal Allah Berawal dari Mengenal Diri Sendiri

Salah satu hikmah terbesar ketika seseorang mengenal Allah SWT adalah munculnya kesadaran tentang siapa dirinya sendiri.

Manusia akan memahami bahwa dirinya hanyalah makhluk yang lemah, memiliki banyak keterbatasan, dan seluruh kehidupannya bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT.

Kesadaran seperti inilah yang melahirkan sifat rendah hati, tidak sombong, serta selalu bersandar kepada pertolongan-Nya.

Semakin seseorang mengenal Tuhannya, semakin ia menyadari bahwa seluruh nikmat yang dimiliki berasal dari Allah SWT.

Kesadaran tersebut membuat seseorang lebih mudah bersyukur ketika memperoleh kenikmatan dan lebih sabar saat menghadapi ujian kehidupan.

Karena itulah para ulama sering menjelaskan bahwa orang yang mengenal dirinya secara benar akan lebih mudah mengenal Rabb yang menciptakannya.

Sebaliknya, manusia yang terlalu mengagungkan dirinya sering kali lupa bahwa seluruh kekuatan, ilmu, maupun harta hanyalah titipan dari Allah SWT.

BACA:  Sering Dianggap Beban, Ternyata Ini Rahasia Besar di Balik Kewajiban Ibadah!

Mengenal Allah juga menjadi jalan menuju keberkahan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Kehidupan tidak lagi sekadar mengejar kesenangan sesaat, tetapi diarahkan untuk mencari ridha Allah SWT.

Fitrah Manusia Selalu Membutuhkan Tuhan

Islam mengajarkan bahwa setiap manusia lahir membawa fitrah untuk mengenal dan menyembah Tuhan.

Namun dalam perjalanan hidupnya, sebagian orang mengarahkan penghambaan kepada selain Allah.

Ada yang menjadikan harta sebagai tujuan utama kehidupan, ada yang mempertuhankan jabatan, kekuasaan, bahkan hawa nafsunya sendiri.

Sebagian lainnya mengagungkan benda-benda tertentu atau meyakini sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan sedikit pun.

Padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa setan merupakan musuh nyata bagi manusia.

Dalam Surah Fathir ayat 6 Allah SWT mengingatkan agar manusia tidak mengikuti ajakan setan yang hanya akan membawa kepada kebinasaan.

Karena itu, manusia diperintahkan menggunakan akal sehat untuk mengenali keberadaan Sang Pencipta melalui berbagai tanda yang tersebar di alam semesta.

Bukti Kebesaran Allah Tampak pada Seluruh Alam

Keberadaan Allah SWT dapat dipahami melalui ciptaan-Nya yang begitu sempurna dan teratur.

Setiap peristiwa pasti memiliki sebab. Rumah yang berdiri megah tentu memiliki pembangun. Kendaraan yang bergerak pasti dibuat oleh pabrik.

Demikian pula alam semesta yang begitu luas tentu memiliki Pencipta yang mengatur seluruh sistemnya.

Pergantian siang dan malam, peredaran matahari, bulan, serta milyaran bintang berjalan dengan ketelitian yang luar biasa.

Semua itu menjadi bukti adanya kekuasaan Allah SWT.

Sebagai gambaran sederhana, seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan besar mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan pemilik perusahaan tersebut.

Namun ia tetap yakin bahwa pemilik itu benar-benar ada karena melihat sistem yang berjalan, aturan yang berlaku, serta hak yang diterimanya.

Begitu pula dengan Allah SWT. Manusia memang tidak dapat melihat-Nya secara langsung di dunia, tetapi keberadaan-Nya dapat dikenali melalui ciptaan, nikmat, serta keteraturan alam semesta.

Udara yang setiap hari dihirup manusia juga menjadi contoh sederhana.

Meski tidak terlihat oleh mata, keberadaannya dapat dirasakan dan menjadi kebutuhan utama seluruh makhluk hidup.

Allah SWT juga menetapkan perjalanan waktu dengan sangat teratur.

Dalam Surah At-Taubah ayat 36 dijelaskan bahwa jumlah bulan menurut ketetapan Allah adalah dua belas bulan, dengan empat di antaranya merupakan bulan-bulan haram.

Keteraturan seperti ini menunjukkan bahwa alam semesta tidak berjalan secara kebetulan, melainkan berada di bawah pengaturan Allah SWT.

Seorang Badui pernah menyampaikan ungkapan yang terkenal dalam literatur Islam.

Ia mengatakan bahwa jejak kaki menunjukkan adanya orang yang berjalan, sedangkan kotoran unta menjadi bukti keberadaan unta.

Maka alam semesta yang demikian megah tentu menunjukkan adanya Sang Pencipta Yang Maha Agung.

Menjawab Pertanyaan Tentang Allah SWT

Dalam perjalanan sejarah, manusia sering mempertanyakan hakikat Allah SWT.

BACA:  Kunci Hidup Bahagia Menurut Islam: Terus Belajar, Beribadah, dan Memperbaiki Diri

Para ulama menjelaskan bahwa pembahasan mengenai zat Allah harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian karena kemampuan akal manusia sangat terbatas.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Kasyifatus Saja memberikan penjelasan sederhana mengenai beberapa pertanyaan akidah.

Apabila ditanya di mana Allah, maka jawabannya adalah Allah tidak membutuhkan tempat.

Jika ditanya bagaimana Allah, maka Allah tidak menyerupai satu pun makhluk-Nya.

Bila ditanya sejak kapan Allah ada, maka Allah tidak memiliki permulaan maupun akhir.

Dan ketika ditanya berapa jumlah Allah, jawabannya adalah Allah Maha Esa.

Seluruh penjelasan tersebut sejalan dengan kandungan Surah Al-Ikhlas ayat 1–4 yang menegaskan bahwa Allah Maha Esa, menjadi tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

Kisah para nabi juga menunjukkan bagaimana manusia mencari petunjuk menuju pengenalan kepada Allah.

Nabi Ibrahim AS pernah mengamati bintang, bulan, dan matahari sebelum Allah memberikan petunjuk kepadanya bahwa semua benda langit hanyalah makhluk ciptaan-Nya.

Sementara itu, Nabi Musa AS pernah memohon agar dapat melihat Allah SWT secara langsung.

Namun Allah menjelaskan dalam Surah Al-A’raf ayat 143 bahwa manusia tidak akan sanggup melihat-Nya ketika masih hidup di dunia.

Wahyu Menjadi Jalan Paling Benar Mengenal Allah

Islam mengajarkan bahwa akal merupakan anugerah besar, tetapi memiliki batas.

Karena itu, perkara tentang Allah SWT harus berlandaskan wahyu yang diturunkan kepada para nabi dan rasul.

Al-Qur’an menjadi sumber utama untuk mengenal Allah SWT.

Melalui kitab suci inilah manusia diperkenalkan kepada nama-nama-Nya yang indah (Asmaul Husna), sifat-sifat-Nya yang sempurna, serta kekuasaan-Nya yang meliputi seluruh alam.

Allah SWT juga mengingatkan dalam Surah Asy-Syura ayat 11 bahwa tidak ada satu pun makhluk yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Di dalam Surah Thaha ayat 14 Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”

Sementara itu, Surah Al-Ikhlas ayat 1–4 kembali menegaskan konsep tauhid sebagai inti ajaran Islam.

Bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tempat bergantung seluruh makhluk, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

Dengan demikian, mengenal Allah SWT bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan membangun keyakinan yang mengarahkan seluruh perjalanan hidup.

Semakin dalam seseorang mengenal Rabb-nya, semakin kuat pula keimanannya, semakin baik akhlaknya, dan semakin jelas tujuan hidup yang ingin diraihnya.

Yakni memperoleh ridha Allah SWT serta kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat. (kangtop)