Keadilan atau Kesejahteraan, Mana yang Lebih Didahulukan? Begini Penjelasan Islam Menurut Quraish Shihab

Religi51 Dilihat

KONCOdewe.com – Perbincangan mengenai hubungan antara keadilan dan kesejahteraan tidak pernah kehilangan relevansinya.

Dalam berbagai diskusi, muncul pertanyaan mendasar: apakah sebuah masyarakat harus lebih dahulu mengejar kesejahteraan, atau justru menegakkan keadilan sebagai fondasi utama?

Cendekiawan Muslim Prof. Muhammad Quraish Shihab memberikan pandangan yang menarik mengenai persoalan tersebut.

Menurutnya, Al-Qur’an telah memberikan arah yang jelas bahwa keadilan merupakan titik awal yang harus diwujudkan terlebih dahulu.

Dari keadilan akan lahir ketakwaan, dan melalui ketakwaan itulah Allah SWT menghadirkan keberkahan yang mengantarkan manusia menuju kesejahteraan.

Pandangan tersebut berangkat dari firman Allah SWT dalam Surah Al-Maidah ayat 8 yang memerintahkan umat Islam agar selalu berlaku adil karena keadilan merupakan sikap yang paling dekat dengan ketakwaan.

Selanjutnya, hubungan antara ketakwaan dan kesejahteraan juga ditegaskan dalam Surah Al-A’raf ayat 96 serta Surah Nuh ayat 10–12 yang menjelaskan bahwa ketakwaan akan membuka pintu keberkahan dari langit maupun bumi.

Keadilan Menjadi Pondasi Kehidupan

Dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat yang diterbitkan Mizan pada 2007, Quraish Shihab menguraikan bahwa kata adl atau keadilan disebut sebanyak 28 kali di dalam Al-Qur’an.

Menariknya, istilah tersebut tidak pernah digunakan sebagai sifat yang secara langsung disematkan kepada Allah SWT.

Sebaliknya, Al-Qur’an lebih banyak menjelaskan bagaimana manusia diperintahkan untuk menegakkan keadilan dalam berbagai sisi kehidupan.

Hal itu menunjukkan bahwa keadilan bukan sekadar konsep hukum, tetapi menjadi prinsip moral yang harus diwujudkan dalam hubungan antarmanusia maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa makna keadilan dalam Al-Qur’an sangat luas.

BACA:  Kenapa Islam Memerintahkan Sujud? Ternyata Ada Fakta Ilmiah yang Mengejutkan

Tidak hanya berbicara mengenai persamaan, tetapi juga mencakup keseimbangan, pemenuhan hak, hingga gambaran tentang keadilan Allah SWT.

Makna Pertama: Keadilan Sebagai Persamaan Hak

Makna pertama dari keadilan adalah memberikan perlakuan yang sama kepada setiap orang dalam memperoleh haknya.

Kesamaan yang dimaksud bukan berarti setiap orang harus menerima hasil yang identik, melainkan memperoleh perlakuan yang adil selama proses berlangsung.

Prinsip tersebut dapat ditemukan dalam Surah An-Nisa ayat 58 yang memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak serta menetapkan hukum secara adil.

Sebagai ilustrasi, Quraish Shihab mengangkat kisah Nabi Daud AS dalam Surah Shad ayat 23.

Ketika menghadapi sengketa antara dua orang, Nabi Daud tidak membiarkan seseorang yang telah memiliki 99 ekor kambing mengambil satu-satunya kambing milik orang lain.

Kisah tersebut menjadi contoh nyata bahwa keadilan berarti memberikan perlindungan terhadap hak setiap individu.

Makna Kedua: Keadilan Berarti Keseimbangan

Selain persamaan hak, Al-Qur’an juga memaknai keadilan sebagai keseimbangan.

Maksudnya ialah adanya keselarasan dalam setiap bagian kehidupan sehingga semuanya berjalan sesuai fungsi dan porsinya masing-masing.

Quraish Shihab mencontohkan bagaimana tubuh manusia maupun alam semesta diciptakan dengan susunan yang seimbang sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Infithar ayat 6–7 dan Surah Al-Mulk ayat 3.

Karena itu, keadilan tidak selalu identik dengan pembagian yang sama rata.

Yang lebih penting adalah terciptanya proporsi yang sesuai sehingga setiap unsur mampu menjalankan tugasnya secara harmonis.

Makna Ketiga: Memberikan Hak kepada yang Berhak

Makna berikutnya adalah menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya.

Dalam konteks sosial, keadilan berarti memberikan hak kepada setiap orang tanpa mengurangi ataupun merampas hak pihak lain.

Sebaliknya, mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya merupakan bentuk kezaliman yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

BACA:  Rahasia di Balik Kesempurnaan Tubuh Manusia yang Sering Terlupakan, Padahal Penuh Hikmah

Prinsip inilah yang menjadi dasar lahirnya keadilan sosial, yaitu kehidupan yang dibangun di atas penghormatan terhadap hak, tanggung jawab, dan martabat setiap manusia.

Makna Keempat: Keadilan dalam Perspektif Ilahi

Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa keadilan Allah SWT memiliki makna yang berbeda dengan keadilan manusia.

Keadilan Allah bukan berarti Dia memiliki kewajiban memenuhi hak makhluk-Nya.

Sebaliknya, seluruh nikmat yang diterima makhluk merupakan bentuk rahmat dan kemurahan Allah yang memungkinkan mereka tetap hidup, berkembang, serta memperoleh karunia sesuai kapasitas masing-masing.

Makna tersebut dapat dipahami melalui Surah Ali Imran ayat 18 dan Surah Fushshilat ayat 46 yang menegaskan bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya.

Dari Keadilan Lahir Kesejahteraan

Berdasarkan penjelasan tersebut, Quraish Shihab menegaskan bahwa Islam tidak menempatkan keadilan dan kesejahteraan sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Justru keduanya memiliki hubungan yang sangat erat.

Keadilan menjadi pondasi yang melahirkan ketakwaan.

Ketika masyarakat hidup dalam keadilan, akan tumbuh rasa saling percaya, penghormatan terhadap hak sesama, serta ketaatan kepada nilai-nilai Allah SWT.

Dari kondisi itulah keberkahan hadir dan kesejahteraan dapat terwujud secara lebih kokoh dan berkelanjutan.

Dengan demikian, menurut perspektif Al-Qur’an, kesejahteraan bukanlah tujuan yang dapat dicapai tanpa keadilan.

Islam mengajarkan bahwa keadilan harus ditegakkan lebih dahulu, karena darinya akan lahir ketakwaan.

Dan dari ketakwaan itulah Allah SWT membuka jalan menuju kehidupan yang makmur, damai, dan penuh keberkahan. (kangtop)