KONCOdewe.com – Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus angka Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional.
Tekanan global yang dipicu konflik geopolitik, derasnya arus modal keluar dari negara berkembang, serta tingginya kebutuhan devisa dalam negeri membuat posisi rupiah semakin tertekan.
Dalam situasi tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kini dituntut bergerak cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan kepercayaan pelaku pasar dan investor.
BI Respons Tekanan Rupiah dengan Kenaikan Suku Bunga
Sebagai langkah antisipasi, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI-rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Kebijakan ini diambil untuk menjaga daya tarik investasi berbasis rupiah, memperkuat stabilitas pasar keuangan, sekaligus mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam target pemerintah.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut kenaikan suku bunga menjadi bagian dari strategi mempertahankan kestabilan rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah dan penguatan dolar AS.
Meski demikian, banyak pihak menilai kebijakan moneter saja belum tentu cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar secara menyeluruh.
Pemerintah Diminta Perkuat Kredibilitas Fiskal
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai langkah BI sudah tepat, namun stabilitas rupiah tidak bisa hanya bergantung pada bank sentral.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memperkuat kredibilitas fiskal dan menunjukkan arah kebijakan ekonomi yang konsisten agar pasar lebih percaya terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Investor, kata Josua, kini tidak hanya memperhatikan situasi global, tetapi juga melihat kesehatan APBN, keberlanjutan fiskal, dan kepastian regulasi di dalam negeri.
Karena itu, disiplin pengelolaan anggaran dianggap sangat penting untuk menjaga sentimen positif investor di tengah gejolak global.
Tekanan Rupiah Bisa Membebani APBN
Pemerintah juga dinilai harus menyiapkan langkah mitigasi apabila harga minyak dunia tetap tinggi dan rupiah bertahan di atas Rp17.500 per dolar AS dalam waktu lama.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap APBN melalui kenaikan subsidi energi serta biaya impor yang semakin mahal.
Para ekonom mendorong pemerintah memperkuat pasokan devisa di dalam negeri, salah satunya melalui percepatan repatriasi devisa hasil ekspor (DHE), memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional, hingga menekan impor barang nonprioritas.
Hilirisasi Industri Dinilai Jadi Solusi Jangka Panjang
Selain kebijakan jangka pendek, penguatan sektor industri berbasis hilirisasi dan peningkatan ekspor bernilai tambah juga dinilai menjadi kunci memperkuat fundamental rupiah.
Semakin besar devisa yang masuk dan semakin kecil ketergantungan terhadap dolar AS, maka ketahanan rupiah menghadapi tekanan eksternal akan semakin kuat.
Dampaknya Bisa Menekan Daya Beli Masyarakat
Pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada sektor keuangan. Dalam jangka tertentu, kondisi ini juga dapat memicu kenaikan harga barang impor, bahan baku industri, energi, hingga pangan.
Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai dampak tersebut perlahan mulai terasa meski inflasi nasional masih relatif terkendali.
Menurutnya, struktur ekonomi Indonesia yang masih cukup bergantung pada impor membuat pelemahan rupiah mudah memengaruhi harga barang dan jasa di dalam negeri.
Penguatan Fundamental Ekonomi Jadi Kunci
Karena itu, sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Intervensi pasar dan kenaikan suku bunga memang dapat membantu meredam tekanan jangka pendek, tetapi penguatan fundamental ekonomi tetap menjadi solusi utama dalam jangka panjang.
Indonesia dinilai perlu memperkuat ketahanan pangan dan energi, meningkatkan ekspor bernilai tambah, mengurangi ketergantungan impor, serta menciptakan kepastian regulasi bagi dunia usaha.
Sebab pada akhirnya, menjaga rupiah bukan hanya soal mempertahankan nilai tukar di pasar.
Tetapi juga berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat, kepercayaan investor, dan kekuatan ekonomi nasional menghadapi tekanan global. (kangtop)












