Jarang Dibudidayakan, Tanaman Duwet Ini Justru Menyimpan Potensi yang Menarik

Hobi45 Dilihat

KONCOdewe.com – Duwet atau yang juga dikenal sebagai jamblang merupakan salah satu tanaman buah lokal yang dahulu cukup mudah ditemukan di berbagai daerah.

Buahnya memiliki ciri khas berupa bentuk lonjong, kulit licin dengan warna yang berubah dari hijau menjadi merah keunguan hingga hitam ketika matang.

Rasanya pun unik, perpaduan antara masam, manis, dan sedikit sepat yang membuat buah ini memiliki penggemarnya sendiri.

Tanaman duwet dikenal dengan nama ilmiah Eugenia cumini Merr. atau Syzygium cumini (L.) Skeels.

Selain menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi, hampir seluruh bagian tanaman ini telah lama dimanfaatkan dalam berbagai keperluan.

Daun, kulit batang, biji, hingga buahnya diketahui memiliki kandungan senyawa seperti saponin, flavonoida, dan tanin.

Sayangnya, keberadaan pohon duwet kini tidak semudah dahulu ditemukan. Salah satu penyebabnya adalah semakin sedikit masyarakat yang membudidayakannya.

Padahal, kondisi iklim di Indonesia cukup mendukung pertumbuhan tanaman tersebut.

Karena itu, menanam kembali duwet di pekarangan maupun lahan yang tersedia dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga keberadaan tanaman buah lokal ini.

Mengenal Tanaman Duwet

Duwet diperkirakan berasal dari kawasan Asia hingga Australia tropis.

Tanaman ini termasuk jenis pohon yang mampu beradaptasi dengan lingkungan tropis dan dapat tumbuh mulai dari dataran rendah hingga ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut.

Di berbagai wilayah Indonesia, tanaman duwet memiliki nama yang berbeda-beda.

Masyarakat Aceh mengenalnya sebagai jambe kleng, sedangkan di wilayah Gayo disebut jambe kling.

Di Minangkabau terdapat sebutan jambu kalang, sementara masyarakat Melayu mengenalnya sebagai jambelang.

Di Jawa, nama yang cukup dikenal adalah duwet atau juwet, sedangkan masyarakat Sunda lebih sering menyebutnya jamblang.

Perbedaan nama tersebut menunjukkan bahwa tanaman ini telah lama dikenal dan menjadi bagian dari kekayaan hayati masyarakat di berbagai daerah.

Klasifikasi Duwet

Secara ilmiah, tanaman duwet termasuk kelompok tumbuhan berbunga dan masuk dalam keluarga Myrtaceae. Klasifikasinya dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Kingdom: Plantae
  • Subkingdom: Tracheobionta
  • Superdivisi: Spermatophyta
  • Divisi: Magnoliophyta
  • Kelas: Magnoliopsida atau Dicotyledonae
  • Subkelas: Rosidae
  • Ordo: Myrtales
  • Famili: Myrtaceae
  • Genus: Eugenia
  • Spesies: Eugenia cumini Merr. atau Syzygium cumini (L.) Skeels
BACA:  Bukan Sekadar Sukses, Ini Rahasia Menata Visi Hidup agar Kebahagiaan Dunia dan Akhirat Lebih Bermakna

Nama ilmiah tersebut merujuk pada tanaman yang secara umum dikenal masyarakat sebagai jamblang atau duwet.

Mengenal Bentuk dan Karakteristik Pohonnya

Pohon duwet memiliki bentuk yang cukup kokoh dan dapat tumbuh hingga sekitar 10-20 meter.

Batangnya berukuran besar, terkadang tumbuh agak bengkok, serta memiliki banyak percabangan.

Sistem perakarannya berupa akar tunggang yang membantu tanaman berdiri kuat dan menopang pertumbuhan pohon dalam jangka panjang.

Salah satu kelebihan tanaman ini adalah masa produksinya yang relatif panjang.

Pohon duwet dapat terus menghasilkan buah selama puluhan tahun apabila tumbuh dalam kondisi lingkungan yang mendukung dan mendapatkan perawatan yang baik.

Daunnya termasuk daun tunggal dengan tekstur cukup tebal. Tangkai daun memiliki panjang sekitar 1-3,5 sentimeter.

Bentuk helaian daunnya cenderung lebar dengan bagian pangkal menyerupai baji dan permukaan yang rata.

Tulang daun tersusun menyirip, sedangkan permukaan atas daun tampak mengilap.

Ukuran daun duwet umumnya berkisar antara 7-16 sentimeter untuk panjang dan 5-9 sentimeter untuk lebarnya.

Ketika tumbuh dengan baik, daunnya berwarna hijau dan membentuk tajuk yang cukup rimbun.

Bunga Duwet yang Harum

Selain buahnya, bunga duwet juga memiliki ciri khas tersendiri. Bunganya tumbuh dalam bentuk bunga majemuk menyerupai malai.

Bunga dapat muncul di ketiak daun maupun pada bagian ujung percabangan.

Kelopak bunga memiliki bentuk seperti lonceng dengan warna hijau muda.

Sementara itu, mahkotanya berbentuk menyerupai telur dan dikelilingi banyak benang sari berwarna putih.

Ketika bermekaran, bunga duwet mengeluarkan aroma yang cukup harum.

Kehadiran bunga tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan buah yang nantinya berkembang setelah terjadi penyerbukan.

Buah Duwet Berubah Warna Saat Matang

Bagian yang paling mudah dikenali dari tanaman ini tentu saja buahnya. Buah duwet umumnya berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 2-3 sentimeter.

Ketika masih muda, buah berwarna hijau. Seiring proses pematangan, warnanya berubah menjadi merah keunguan hingga ungu kehitaman.

Menariknya, terdapat pula buah duwet yang ketika matang memiliki warna lebih terang.

Daging buahnya dapat berwarna putih, kekuningan, kelabu, hingga sedikit kemerah-merahan atau ungu.

BACA:  Naik Lagi! Harga Emas Pegadaian 25 Agustus 2026, Antam Jadi Rp2,81 Juta per Gram

Cita rasa buah duwet juga menjadi karakter tersendiri. Buah yang matang dapat memberikan sensasi sepat dan masam hingga berubah menjadi lebih manis.

Karena itulah, sebagian orang biasa menikmati duwet secara langsung, sementara sebagian lainnya mengolahnya menjadi berbagai jenis makanan dan minuman.

Di dalam buah terdapat biji berwarna putih dengan bentuk lonjong menyerupai kapsul. Panjang bijinya dapat mencapai sekitar 3,5 sentimeter.

Dua Jenis Duwet yang Dikenal

Berdasarkan warna buah ketika matang, setidaknya terdapat dua jenis duwet yang cukup mudah dibedakan.

Jenis pertama memiliki kulit buah yang berubah menjadi merah kehitaman ketika matang.

Sementara jenis lainnya menghasilkan buah dengan kulit berwarna putih ketika sudah masak.

Perbedaan warna tersebut menjadi salah satu ciri yang menarik bagi masyarakat yang ingin mengenali maupun membudidayakan tanaman duwet.

Mengapa Duwet Layak Dibudidayakan?

Keberadaan tanaman buah lokal seperti duwet tidak hanya berkaitan dengan hasil panen.

Membudidayakannya juga dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan keanekaragaman tanaman yang semakin jarang ditemui.

Duwet sebenarnya memiliki kemampuan tumbuh yang cukup baik di lingkungan tropis seperti Indonesia.

Dengan lahan yang memadai, tanaman ini dapat dikembangkan sebagai pohon buah di pekarangan, kebun, maupun lahan pertanian.

Selain memberikan hasil berupa buah, pohonnya yang dapat tumbuh besar juga dapat menjadi bagian dari penghijauan.

Dengan perawatan yang tepat, tanaman ini berpotensi memberikan hasil dalam jangka panjang.

Menanam duwet mungkin terlihat sebagai langkah sederhana.

Namun, dari satu bibit yang tumbuh hingga menjadi pohon produktif, ada upaya untuk menjaga agar buah lokal yang mulai jarang ditemukan tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Oleh karena itu, bertanam duwet bukan sekadar kegiatan menghasilkan buah.

Lebih dari itu, menanam kembali tanaman yang mulai langka dapat menjadi cara untuk mengenalkan kembali kekayaan hayati kepada generasi berikutnya.

Buah yang dahulu akrab di lingkungan pedesaan pun memiliki peluang untuk kembali menghiasi pekarangan dan kebun masyarakat. (kangtop)