KONCOdewe.com – Rasa panas atau terbakar di bagian bawah dada, terutama setelah makan, sering kali dikaitkan dengan asam lambung yang naik.
Keluhan tersebut dikenal sebagai heartburn dan dapat terasa mengganggu, terutama ketika muncul berulang kali atau pada saat seseorang sedang beristirahat.
Pada kondisi tertentu, asam dari lambung dapat mengalir kembali menuju kerongkongan.
Hal ini berkaitan dengan kerja sfingter esofagus, yaitu otot berbentuk seperti katup yang berada di antara kerongkongan dan lambung.
Ketika fungsi katup tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya, isi lambung lebih mudah naik ke kerongkongan.
Jika keluhan refluks terjadi secara berulang, misalnya lebih dari dua kali dalam seminggu, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gastroesophageal reflux disease (GERD).
GERD bukan sekadar keluhan sesekali, sehingga perlu diperhatikan apabila gejalanya sering kambuh atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Mengapa Asam Lambung Bisa Naik?
Asam lambung naik dapat dipengaruhi oleh berbagai kebiasaan maupun kondisi tubuh. Salah satu pemicunya adalah pola makan dan kebiasaan setelah makan.
Makan dalam jumlah terlalu banyak dapat meningkatkan tekanan di dalam lambung. Begitu pula kebiasaan langsung berbaring setelah makan.
Ketika tubuh berada dalam posisi mendatar, isi lambung lebih mudah bergerak kembali ke arah kerongkongan.
Waktu makan juga dapat berpengaruh. Makan dalam waktu yang terlalu dekat dengan jam tidur membuat lambung masih bekerja ketika tubuh sudah berada dalam posisi berbaring.
Selain itu, sejumlah makanan dan minuman dapat menjadi pemicu pada sebagian orang.
Contohnya makanan pedas, makanan berlemak, jeruk, tomat, cokelat, mint, kopi, teh, minuman bersoda, serta alkohol. Respons setiap orang terhadap makanan tersebut dapat berbeda.
Kebiasaan merokok juga dapat berpengaruh terhadap fungsi sfingter esofagus.
Sementara itu, kehamilan dan penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat berkaitan dengan munculnya keluhan refluks.
Karena itu, mengenali pemicu pribadi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu mengendalikan gejala.
Jangan Langsung Berbaring Setelah Makan
Salah satu perubahan kebiasaan yang relatif sederhana adalah memberi jeda setelah makan sebelum berbaring.
Memberikan waktu bagi lambung untuk mencerna makanan dapat membantu mengurangi kemungkinan isi lambung kembali naik ke kerongkongan.
Bagi orang yang sering mengalami keluhan pada malam hari, mengatur jarak antara waktu makan malam dan waktu tidur juga dapat menjadi bagian dari upaya mengendalikan gejala.
Selain itu, posisi tidur dapat diperhatikan. Pada sebagian penderita GERD, meninggikan bagian kepala saat tidur dapat membantu mengurangi refluks pada malam hari.
Perubahan Gaya Hidup Bisa Membantu
Pengendalian asam lambung tidak selalu dimulai dengan obat. Perubahan gaya hidup dapat menjadi salah satu langkah yang penting, terutama jika gejala masih ringan.
Menjaga berat badan tetap sehat dapat membantu mengurangi tekanan pada area perut.
Jika seseorang memiliki berat badan berlebih, penurunan berat badan sesuai anjuran tenaga kesehatan dapat menjadi bagian dari penanganan GERD.
Berhenti merokok juga penting. Selain memiliki berbagai dampak terhadap kesehatan, rokok dapat memengaruhi fungsi sfingter esofagus.
Kebiasaan makan juga perlu diperhatikan.
Usahakan tidak makan terburu-buru dan kunyah makanan dengan baik. Hindari pula makanan atau minuman yang terbukti memicu keluhan secara pribadi.
Pakaian yang terlalu ketat di bagian pinggang juga sebaiknya dihindari jika terasa memperburuk gejala.
Tekanan pada area perut dapat membuat keluhan refluks lebih mudah muncul pada sebagian orang.
Obat Bisa Menjadi Pilihan Berikutnya
Jika perubahan pola hidup belum cukup membantu, obat-obatan dapat digunakan sesuai kondisi dan kebutuhan.
Salah satu obat yang dikenal untuk meredakan gejala akibat asam lambung adalah antasida.
Obat ini bekerja dengan menetralkan asam lambung sehingga dapat membantu meredakan keluhan dalam waktu relatif cepat.
Namun, antasida bukan berarti menyelesaikan seluruh masalah GERD.
Obat tersebut tidak memperbaiki kerusakan atau peradangan pada kerongkongan yang mungkin terjadi akibat paparan asam secara berulang.
Penggunaan obat bebas juga sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan.
Konsumsi yang tidak sesuai aturan dapat menimbulkan efek samping tertentu, sehingga petunjuk penggunaan pada kemasan perlu diperhatikan.
Selain antasida, terdapat obat yang bekerja dengan mengurangi produksi asam lambung, termasuk kelompok penghambat reseptor H-2.
Dokter dapat menentukan jenis obat yang sesuai berdasarkan kondisi dan tingkat keparahan gejala.
Jika keluhan terus berulang meskipun sudah melakukan perubahan gaya hidup atau menggunakan obat bebas sesuai petunjuk, pemeriksaan dokter menjadi langkah yang lebih tepat.
Kapan GERD Membutuhkan Tindakan Medis?
Sebagian kasus GERD dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup dan obat-obatan.
Namun, pada kondisi tertentu, terutama ketika keluhan sering kambuh atau tidak membaik dengan penanganan yang diberikan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan dan tindakan lebih lanjut.
Dalam kasus tertentu, prosedur medis dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki fungsi penghalang antara lambung dan kerongkongan.
Salah satu tindakan yang dikenal adalah operasi untuk memperkuat mekanisme sfingter esofagus bagian bawah.
Ada pula prosedur tertentu dengan menggunakan perangkat seperti LINX, yaitu sistem cincin magnetik yang ditempatkan di sekitar perbatasan antara lambung dan kerongkongan untuk membantu fungsi sfingter.
Jenis tindakan yang dipilih tentu bergantung pada hasil pemeriksaan dan kondisi masing-masing pasien. Operasi bukan penanganan pertama untuk seluruh penderita GERD.
Bagaimana Dokter Memastikan GERD?
Keluhan seperti dada terasa panas atau asam terasa naik tidak selalu cukup untuk memastikan seseorang mengalami GERD.
Dokter biasanya akan mempertimbangkan riwayat gejala, kebiasaan makan, kondisi kesehatan, serta respons terhadap penanganan sebelumnya.
Jika diperlukan, pemeriksaan tambahan dapat dilakukan.
Beberapa pemeriksaan yang dapat digunakan antara lain endoskopi untuk melihat kondisi kerongkongan dan lambung, pemeriksaan kadar atau paparan asam, serta pemeriksaan pencitraan tertentu sesuai kebutuhan.
Hasil pemeriksaan tersebut membantu dokter menentukan apakah keluhan memang berkaitan dengan GERD atau terdapat kondisi lain yang perlu ditangani.
Jangan Abaikan Keluhan yang Terus Berulang
Asam lambung naik memang dapat muncul sesekali, tetapi keluhan yang terjadi berulang dan mengganggu aktivitas sebaiknya tidak dianggap sebagai masalah sepele.
Mengenali makanan atau kebiasaan yang menjadi pemicu, mengatur waktu makan, tidak langsung berbaring setelah makan, menjaga berat badan, berhenti merokok, serta menggunakan obat sesuai petunjuk dapat menjadi bagian dari upaya mengendalikan gejala.
Jika keluhan tidak membaik, semakin sering muncul, atau membutuhkan obat secara terus-menerus, konsultasikan dengan dokter.
Penanganan yang tepat perlu disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing orang, bukan sekadar mengandalkan obat untuk meredakan gejala sementara. (kangtop)












