Melihat Orang Lain Berhasil Malah Gelisah? Islam Punya Pesan Penting soal Hasad

Religi43 Dilihat

KONCOdewe.com – Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak pernah lepas dari pertemuan dengan berbagai macam keadaan.

Ada kalanya melihat orang lain berhasil membuat hati ikut bahagia dan terdorong untuk berusaha lebih keras.

Namun, ada pula kondisi ketika keberhasilan orang lain justru memunculkan rasa tidak nyaman di dalam hati.

Perasaan tersebut perlu diperhatikan.

Sebab, rasa tidak suka terhadap nikmat yang dimiliki orang lain dapat berkembang menjadi penyakit hati yang dalam ajaran Islam dikenal sebagai hasad.

Hasad bukan sekadar rasa iri biasa. Seseorang yang memiliki sifat hasad bukan hanya menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain, tetapi dapat sampai berharap agar kenikmatan tersebut berkurang atau hilang dari pemiliknya.

Di sinilah letak bahayanya.

Perasaan yang awalnya hanya berada di dalam hati dapat berkembang menjadi kebencian, prasangka buruk, bahkan tindakan yang merusak hubungan dengan sesama.

Padahal, setiap nikmat yang diterima manusia berada dalam ketentuan Allah SWT.

Rezeki, kemampuan, kesehatan, ilmu, kedudukan, maupun berbagai bentuk kebahagiaan diberikan kepada setiap orang dengan ukuran dan hikmah yang berbeda.

Karena itu, seorang Muslim perlu belajar menerima perbedaan tersebut dengan lapang dada.

Memahami Perbedaan Hasad dan Ghibthah

Tidak semua rasa ingin memiliki seperti yang dimiliki orang lain termasuk hasad.

Dalam Islam dikenal pula istilah ghibthah, yaitu keinginan mendapatkan kebaikan serupa tanpa berharap kebaikan tersebut hilang dari orang yang telah memilikinya.

Perbedaan keduanya sangat penting untuk dipahami.

Misalnya, seseorang melihat temannya rajin membaca Al-Qur’an. Ia kemudian berkata dalam hati, “Saya juga ingin bisa serajin itu.”

Perasaan tersebut dapat menjadi dorongan positif.

Begitu pula ketika melihat orang lain sukses dalam usaha, memiliki ilmu yang luas, atau gemar bersedekah.

Jika keberhasilan tersebut justru membuat seseorang termotivasi untuk meningkatkan dirinya tanpa menginginkan orang lain kehilangan nikmatnya, maka hal itu berbeda dengan hasad.

Hasad muncul ketika hati tidak rela melihat orang lain mendapatkan kebaikan.

Orang yang hasad merasa terganggu oleh kebahagiaan orang lain. Ia bahkan dapat berharap agar keberhasilan tersebut berakhir atau nikmat yang dimiliki orang lain dicabut.

Karena itu, penyakit hati ini perlu segera dikenali sebelum semakin menguasai diri.

Ketika Keberhasilan Orang Lain Justru Membuat Hati Tidak Tenang

Bayangkan seseorang melihat tetangganya membeli kendaraan baru.

Alih-alih mengucapkan syukur atau ikut mendoakan, hatinya justru dipenuhi pertanyaan dan rasa tidak senang.

Mengapa dia bisa membeli? Mengapa usahanya maju? Mengapa saya belum mendapatkan hal yang sama?

Jika pertanyaan seperti itu terus dipelihara tanpa diimbangi rasa syukur, hati dapat semakin dipenuhi perbandingan.

Kehidupan akhirnya bukan lagi tentang menikmati apa yang dimiliki, tetapi sibuk memperhatikan apa yang dimiliki orang lain.

Inilah salah satu dampak hasad yang sering tidak disadari.

Seseorang dapat memiliki banyak nikmat, tetapi tetap merasa kekurangan karena pandangannya selalu tertuju kepada kehidupan orang lain.

Allah SWT telah mengingatkan: “Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah Allah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa: 54)

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan iri dan dengki bukanlah sesuatu yang baru. Penyakit hati tersebut telah menjadi salah satu persoalan manusia sejak dahulu.

Hasad Dapat Merusak Hubungan Persaudaraan

Rasa iri yang dibiarkan tumbuh tidak berhenti pada persoalan batin.

Dalam kondisi tertentu, hasad dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain.

Teman yang sebelumnya dekat bisa mulai dijauhi. Saudara yang dahulu sering berbagi cerita bisa berubah menjadi pihak yang dicurigai.

BACA:  Ternyata Hidup Punya Rumus! Ini Formula Sukses yang Sering Diabaikan Banyak Orang

Bahkan, seseorang dapat terdorong menyebarkan perkataan buruk hanya karena tidak senang melihat orang lain mendapatkan keberhasilan.

Padahal, hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa rusak hanya karena perasaan yang tidak dikendalikan.

Hasad membuat seseorang sulit melihat kebaikan orang lain secara objektif.

Prestasi dianggap sebagai ancaman. Keberhasilan dianggap sebagai sesuatu yang harus disaingi.

Kebahagiaan orang lain bahkan bisa terasa seperti kegagalan bagi dirinya sendiri. Jika keadaan ini terus berlangsung, hati akan semakin jauh dari ketenangan.

Bahaya Hasad bagi Diri Sendiri

Sering kali orang mengira bahwa iri hanya merugikan orang yang menjadi sasaran.

Padahal, orang yang paling lama merasakan dampaknya justru bisa jadi adalah dirinya sendiri.

Mengapa?

Karena orang yang memelihara hasad harus terus membawa rasa tidak suka tersebut di dalam pikirannya.

Setiap melihat keberhasilan orang lain, rasa sakit kembali muncul. Setiap mendengar kabar baik tentang orang lain, hati kembali gelisah.

Akhirnya, hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.

Ia terus membandingkan pencapaian, harta, pekerjaan, keluarga, pendidikan, maupun kehidupan sosial dengan orang lain.

Padahal, setiap manusia memiliki jalan hidup dan bagian rezeki yang berbeda.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)

Pesan tersebut mengajarkan bahwa perbedaan nikmat merupakan bagian dari kehidupan.

Ada orang yang diberi kelapangan dalam harta. Ada yang diberi kesehatan.

Ada yang diberi ilmu. Ada yang diberi keluarga yang harmonis.

Ada pula yang mendapatkan kesempatan berbeda sesuai dengan ketentuan Allah.

Membandingkan semuanya secara terus-menerus justru dapat membuat hati kehilangan rasa syukur.

Hasad dan Hilangnya Ketenangan Batin

Ketenangan sulit tumbuh di hati yang terus dipenuhi rasa iri.

Seseorang yang terbiasa melihat kehidupan orang lain sebagai ukuran keberhasilannya akan sulit merasa cukup.

Ketika orang lain naik jabatan, ia merasa tertinggal. Ketika teman memiliki usaha yang berkembang, ia merasa kalah.

Ketika seseorang mendapatkan penghargaan, ia merasa dirinya tidak dihargai.

Pola seperti ini membuat kebahagiaan bergantung pada pencapaian orang lain.

Padahal, kebahagiaan seharusnya tidak dibangun dengan cara menjatuhkan keberhasilan sesama.

Seorang Muslim justru diajarkan untuk mengembangkan rasa syukur dan menerima ketentuan Allah dengan penuh keyakinan.

Bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki cita-cita tinggi. Justru, Islam mendorong umatnya untuk berusaha.

Namun, berusaha menjadi lebih baik tidak harus dilakukan dengan berharap orang lain mengalami kegagalan.

Hasad Dapat Mengikis Pahala Kebaikan

Bahaya hasad juga berkaitan dengan kehidupan spiritual.

Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah hasad, karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

Hadis tersebut menggambarkan betapa seriusnya penyakit iri dan dengki.

Perumpamaan api yang membakar kayu menunjukkan bahwa hasad dapat mengikis kebaikan sebagaimana sesuatu yang perlahan-lahan dilalap hingga habis.

Karena itu, menjaga hati sama pentingnya dengan menjaga perbuatan.

Seseorang mungkin terlihat baik di hadapan orang lain, tetapi tetap perlu memperhatikan apa yang tumbuh di dalam hatinya.

Sebab, hati yang dipenuhi kebencian akan memengaruhi ucapan dan tindakan.

Cara Mengurangi Rasa Hasad

Lantas, bagaimana jika rasa iri sudah terlanjur muncul?

Langkah pertama adalah menyadarinya.

Jangan langsung membenarkan setiap perasaan yang muncul di dalam hati.

Ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, cobalah bertanya kepada diri sendiri: mengapa saya merasa tidak senang?

Dari pertanyaan tersebut, seseorang dapat mulai mengenali sumber rasa iri.

Langkah berikutnya adalah memperkuat keyakinan bahwa rezeki setiap manusia telah diatur Allah SWT.

Apa yang diberikan kepada orang lain tidak otomatis mengurangi bagian yang telah disiapkan untuk diri sendiri.

BACA:  Akal, Perasaan, dan Tubuh, Mana yang Sebenarnya Lebih Jujur Menentukan Arah Hidup?

Kemudian, biasakan mendoakan kebaikan bagi orang yang mendapatkan nikmat.

Awalnya mungkin terasa berat.

Namun, kebiasaan tersebut dapat membantu mengubah respons hati secara perlahan.

Jika sebelumnya keberhasilan orang lain membuat hati panas, perlahan keberhasilan tersebut dapat dipandang sebagai sesuatu yang patut disyukuri.

Memperbanyak Syukur

Syukur menjadi salah satu cara penting untuk menjaga hati dari hasad.

Orang yang terbiasa menghitung nikmat yang dimilikinya akan lebih mudah menyadari bahwa hidupnya juga dipenuhi berbagai kebaikan.

Tidak semua nikmat berbentuk uang.

Waktu bersama keluarga, kesehatan, kesempatan belajar, teman yang baik, pekerjaan, ketenangan, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari juga merupakan karunia.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Syukur membuat perhatian kembali kepada apa yang dimiliki, bukan terus-menerus kepada apa yang dimiliki orang lain.

Dengan demikian, hati memiliki ruang yang lebih besar untuk merasa cukup.

Memilih Lingkungan yang Menyehatkan Hati

Lingkungan pergaulan juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan.

Jika seseorang terbiasa berada dalam lingkungan yang gemar membicarakan kekurangan orang lain, membandingkan pencapaian, atau meremehkan keberhasilan sesama, rasa iri dapat lebih mudah tumbuh.

Sebaliknya, lingkungan yang positif dapat membantu seseorang belajar bersyukur, saling mendukung, dan memberikan motivasi.

Karena itu, memilih teman dan lingkungan yang baik bukan hanya penting untuk perkembangan diri, tetapi juga membantu menjaga kebersihan hati.

Belajar ikut senang ketika orang lain mendapatkan kebaikan adalah salah satu latihan akhlak yang tidak mudah, tetapi sangat berharga.

Mengubah Iri Menjadi Motivasi

Ada cara sederhana untuk mengubah rasa iri menjadi energi positif.

Ketika melihat seseorang berhasil, jangan berhenti pada pertanyaan, “Mengapa dia bisa?”

Ubahlah menjadi, “Apa yang bisa saya pelajari dari keberhasilannya?”

Pertanyaan kedua membuka ruang untuk belajar.

Jika seseorang sukses karena disiplin, pelajari kedisiplinannya. Jika ia berhasil karena tekun, pelajari ketekunannya.

Jika ia maju karena rajin menambah ilmu, jadikan itu sebagai motivasi.

Dengan cara tersebut, keberhasilan orang lain tidak lagi menjadi sumber kebencian, tetapi menjadi inspirasi untuk memperbaiki diri.

Inilah perbedaan antara hasad dan ghibthah.

Yang satu ingin melihat nikmat orang lain hilang. Yang lain menjadikan kebaikan orang lain sebagai dorongan untuk ikut berkembang.

Menjaga Hati, Menjaga Kehidupan

Hasad bukan hanya persoalan hubungan dengan orang lain. Ia juga berkaitan dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri dan dengan Allah SWT.

Hati yang terus dipenuhi rasa iri akan sulit menikmati kehidupan dengan tenang.

Sebaliknya, hati yang dibiasakan bersyukur akan lebih mudah menerima perbedaan dan menghargai perjalanan hidup masing-masing.

Tidak semua orang harus memiliki jalan yang sama. Tidak semua keberhasilan datang pada waktu yang sama.

Dan tidak semua rezeki hadir dalam bentuk yang serupa.

Karena itu, ketika melihat orang lain memperoleh nikmat, belajarlah untuk mengucapkan syukur dan mendoakan kebaikan.

Jika ingin memiliki pencapaian serupa, jadikan sebagai motivasi untuk berusaha. Sebab, keberhasilan orang lain tidak harus menjadi alasan untuk merasa kalah.

Membersihkan hati dari hasad berarti belajar menerima ketentuan Allah, menghargai nikmat sesama, dan terus memperbaiki diri tanpa harus menjatuhkan orang lain.

Dengan hati yang lebih bersih, kehidupan menjadi lebih ringan.

Persaudaraan dapat terjaga, pikiran lebih tenang, dan setiap nikmat yang dimiliki dapat dinikmati dengan penuh rasa syukur. (kangtop)