KONCOdewe.com – Ketika memasuki bulan Rabiul Awal, suasana di berbagai daerah terasa berbeda.
Masjid, musala, majelis taklim hingga lingkungan masyarakat ramai dengan lantunan sholawat.
Berbagai bacaan seperti Barzanji, Diba’, Burdah, Syariful Anam, Natsar dan rangkaian pujian kepada Nabi Muhammad SAW menggema hampir di setiap tempat.
Bagi umat Islam, rangkaian kegiatan tersebut bukan sekadar tradisi tahunan.
Di balik lantunan sholawat dan pujian itu terdapat rasa cinta, kegembiraan sekaligus penghormatan terhadap kelahiran manusia pilihan, Nabi Muhammad SAW.
Namun, di tengah suasana tersebut muncul sebuah pertanyaan yang cukup menarik untuk direnungkan.
Mengapa kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diperingati, sementara para ulama atau orang saleh justru lebih sering dikenang pada hari wafatnya?
Pertanyaan ini sekilas sederhana, tetapi menyimpan pelajaran penting tentang perbedaan kedudukan Nabi dengan manusia biasa.
Nabi Muhammad SAW Memiliki Keistimewaan yang Berbeda
Dalam pemahaman Islam, para nabi memiliki kedudukan khusus.
Nabi Muhammad SAW merupakan manusia pilihan Allah SWT yang mendapat penjagaan dari dosa (ma’shum) dan menjadi teladan bagi umat hingga akhir kehidupan beliau.
Kebaikan akhlak dan perilaku Rasulullah SAW bukan sesuatu yang hanya terlihat pada masa tertentu.
Kehidupan beliau menjadi contoh yang terus dikenang karena seluruh perjalanan dakwah dan kehidupannya dipenuhi keteladanan.
Hal inilah yang membedakan Nabi Muhammad SAW dengan manusia biasa, termasuk para ulama dan kiai.
Ketika seorang ulama masih hidup, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bagaimana akhir perjalanan hidupnya.
Seseorang mungkin dikenal saleh, rajin beribadah dan banyak melakukan kebaikan.
Namun, manusia tidak mengetahui secara pasti bagaimana keadaan seseorang ketika ajal menjemputnya.
Karena itu, kehidupan para ulama biasanya dikenang melalui perjuangan dan amal yang telah mereka tinggalkan setelah wafat.
Sementara Nabi Muhammad SAW memiliki kedudukan khusus sebagai utusan Allah dan teladan yang dijaga dalam menjalankan risalah-Nya.
Muhammad SAW, Manusia Istimewa di Tengah Manusia
Ada sebuah syair yang menggambarkan keistimewaan Rasulullah SAW:
مُحَمَّدٌ بَشَرٌ لَا كَالْبَشَرِ # بَلْ هُوَ كَالَيَاقُوْتِ بَيْنَ الْحَجَرِ
Muhammad adalah seorang manusia, tetapi tidak seperti manusia biasa. Beliau laksana yaqut yang berada di antara bebatuan.
Ungkapan tersebut bukan berarti Nabi Muhammad SAW bukan manusia.
Beliau tetap seorang manusia yang makan, minum, tidur, berkeluarga dan menjalani kehidupan sebagaimana manusia.
Namun, kedudukan, akhlak, tugas kenabian dan kemuliaan beliau membuatnya memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya.
Karena itulah, ketika umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang sebenarnya tidak hanya dikenang adalah sebuah tanggal.
Lebih dari itu, umat diajak kembali mengingat sosok yang membawa risalah Islam dan menjadi jalan petunjuk bagi manusia.
Akhlak Nabi Muhammad SAW Adalah Al-Qur’an
Jika seseorang bertanya seperti apa akhlak Nabi Muhammad SAW, jawabannya dapat ditemukan dalam gambaran bahwa akhlak beliau mencerminkan Al-Qur’an.
Rasulullah dikenal sebagai sosok yang penuh kasih sayang, dermawan dan rendah hati.
Kedermawanan beliau semakin tampak ketika memasuki bulan Ramadan. Beliau dikenal tidak mudah mengecewakan orang yang datang meminta pertolongan.
Kepribadian Rasulullah juga menunjukkan ketawadhuan yang luar biasa.
Beliau tidak hidup dengan sikap merasa lebih tinggi daripada orang lain meskipun memiliki kedudukan yang sangat mulia.
Dalam berbagai kisah kehidupan beliau, Rasulullah SAW bahkan dikenal dekat dengan masyarakat kecil.
Beliau menjenguk orang sakit, duduk bersama kaum fakir, memenuhi undangan, serta menjalani kehidupan dengan kesederhanaan.
Beliau juga tidak menghendaki dirinya diperlakukan seperti seorang raja yang harus selalu dihormati dengan cara berlebihan.
Dari sini terlihat bahwa kemuliaan Rasulullah justru berjalan beriringan dengan kerendahan hati.
Keteladanan Nabi Ada dalam Kehidupan Sehari-hari
Rasulullah SAW bukan hanya mengajarkan kebaikan melalui perkataan. Beliau memperlihatkan bagaimana kebaikan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau berinteraksi dengan orang miskin, memenuhi undangan masyarakat dari berbagai kalangan, memperhatikan orang-orang yang berada di sekitarnya, bahkan melakukan pekerjaan sederhana untuk dirinya sendiri.
Kesederhanaan itu menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kemewahan ataupun kedudukan duniawi.
Nabi Muhammad SAW justru memberikan contoh bahwa manusia yang memiliki kedudukan tinggi di hadapan Allah tetap harus memiliki hati yang lembut dan sikap rendah hati terhadap sesama.
Karena itu, ketika umat Islam mencari sosok yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan, Rasulullah SAW menjadi contoh utama.
Allah SWT berfirman: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan Nabi Muhammad SAW bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk diteladani.
Maulid Bukan Sekadar Perayaan
Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada kemeriahan acara atau banyaknya rangkaian kegiatan.
Lantunan sholawat, pembacaan Barzanji, Diba’, Burdah dan berbagai bentuk pujian kepada Rasulullah dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali kecintaan kepada beliau.
Sebab, semakin seseorang mengenal kehidupan Nabi Muhammad SAW, semakin banyak pula pelajaran yang dapat diambil.
Salah satu bentuk sederhana untuk menjaga kecintaan tersebut adalah memperbanyak membaca sholawat.
Bukan karena Rasulullah SAW membutuhkan tambahan kemuliaan dari sholawat umatnya. Justru umatlah yang membutuhkan keberkahan dari kecintaan kepada beliau.
Ada ungkapan yang menggambarkan betapa besar kedudukan Rasulullah dalam perjalanan umat manusia:
لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا
Artinya: “Jika bukan karena engkau, kami tidak mendapatkan petunjuk.”
Ungkapan tersebut menggambarkan betapa besar jasa Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah dan membimbing umat menuju jalan Allah SWT.
Kita yang Membutuhkan Sholawat
Rasulullah SAW tidak membutuhkan pujian dari manusia untuk menjadi mulia. Kemuliaan beliau telah diberikan Allah SWT.
Justru kitalah yang membutuhkan sholawat, kecintaan dan keteladanan tersebut.
Ibarat sebuah ember yang telah penuh dengan air lalu terus dituangkan air ke dalamnya, air yang melimpah akan tumpah keluar.
Demikian pula kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kita berharap memperoleh bagian dari keberkahan, rahmat dan kebaikan yang mengalir dari kecintaan tersebut.
Karena itu, momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW hendaknya menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita mengenal Rasulullah, mencintainya, memperbanyak sholawat dan meniru akhlaknya?
Sebab, mengenang kelahiran Nabi bukan sekadar mengingat masa lalu. Yang jauh lebih penting adalah membawa keteladanan beliau ke dalam kehidupan hari ini.
Jika Rasulullah mengajarkan kasih sayang, maka mari menebarkannya.
Jika beliau mengajarkan rendah hati, maka mari menjauhi kesombongan. Jika beliau mengajarkan kedermawanan, maka mari belajar berbagi.
Dengan demikian, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW akan menjadi lebih bermakna ketika tidak hanya terdengar melalui lantunan sholawat, tetapi juga terlihat dalam akhlak dan perilaku umatnya. (kangtop)












