Keadilan Disebut Tiang Keempat Akhlak, Ternyata Ini Perannya dalam Membentuk Pribadi Mulia

Religi49 Dilihat

KONCOdewe.com – Akhlak mulia tidak lahir hanya dari kemampuan seseorang berpikir dengan baik atau mengendalikan keinginan sesaat.

Dalam pandangan para ulama, manusia memiliki sejumlah potensi dalam dirinya yang harus diarahkan dan diseimbangkan agar menghasilkan perilaku yang baik.

Tiga potensi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia adalah akal, amarah, dan syahwat.

Ketiganya dapat menjadi sumber kebaikan apabila berada dalam kendali yang benar.

Namun jika tidak diarahkan, ketiga potensi tersebut juga dapat membawa manusia kepada kesalahan, keserakahan, bahkan kezaliman.

Karena itulah, terdapat satu sifat yang berfungsi menjaga keseimbangan seluruh potensi tersebut, yakni keadilan atau ‘adalah.

Keadilan menjadi semacam penyangga yang memastikan akal, amarah, dan syahwat tidak berjalan secara berlebihan.

Tanpa keadilan, akal dapat digunakan untuk mencari celah dan melakukan tipu daya.

Amarah dapat berubah menjadi tindakan kasar dan zalim, sementara syahwat dapat berkembang menjadi keserakahan yang membuat seseorang tidak pernah merasa cukup.

Sebaliknya, ketika keadilan tertanam dalam diri, seluruh potensi manusia dapat diarahkan untuk menghasilkan akhlak yang lebih baik.

Keadilan Bukan Sekadar Berlaku Adil kepada Orang Lain

Ketika mendengar kata keadilan, banyak orang langsung mengaitkannya dengan perlakuan yang sama kepada orang lain.

Padahal, makna keadilan dalam pembentukan akhlak memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Keadilan juga berarti kemampuan seseorang menempatkan segala sesuatu secara tepat.

Termasuk di dalamnya bagaimana manusia mengatur pikiran, emosi, keinginan, serta tindakannya agar tidak keluar dari batas yang semestinya.

Orang yang mampu bersikap adil tidak mudah mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi.

Ia berusaha melihat persoalan secara jernih sebelum menentukan sikap.

Dari keseimbangan tersebut kemudian lahir berbagai sifat baik seperti kebijaksanaan, kecermatan, kemampuan membaca keadaan, serta kesadaran untuk menghindari tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Sebaliknya, ketika keseimbangan tersebut hilang, manusia lebih mudah terjebak dalam kelalaian, pengkhianatan, tipu daya, maupun tindakan yang akhirnya membawa kerusakan.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…”
(QS. An-Nahl: 90)

Ayat tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa keadilan bukan sekadar nilai sosial, tetapi juga bagian dari perintah Allah SWT yang harus diwujudkan dalam kehidupan.

Moderasi Menjadi Jalan untuk Menjaga Keseimbangan

Keadilan erat kaitannya dengan sikap moderat. Seseorang yang mampu menempatkan sesuatu secara proporsional tidak akan mudah terjebak dalam sikap berlebihan.

Moderasi membuat manusia mampu melihat sebuah persoalan dari berbagai sisi.

Ia tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, tetapi juga tidak membiarkan dirinya larut dalam keraguan tanpa alasan.

BACA:  Banyak yang Mengira Kedermawanan Hanya Soal Uang, Padahal Maknanya Jauh Lebih Dalam

Dari keseimbangan tersebut lahir hikmah atau kebijaksanaan.

Seseorang menjadi lebih mampu membaca keadaan, mengenali potensi bahaya, serta memahami akibat dari setiap tindakan yang dilakukan.

Allah SWT berfirman: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan (wasath).” (QS. Al-Baqarah: 143)

Pesan tersebut menunjukkan pentingnya sikap pertengahan dalam kehidupan. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak mengabaikan sesuatu yang memang menjadi kewajiban.

Jalan tengah bukan berarti kehilangan prinsip. Justru moderasi membuat seseorang mampu mempertahankan prinsip dengan cara yang tepat dan tidak melampaui batas.

Mengendalikan Amarah Melahirkan Keberanian yang Mulia

Potensi amarah juga membutuhkan pengendalian. Amarah bukan selalu sesuatu yang buruk.

Jika diarahkan dengan benar, kekuatan tersebut dapat melahirkan keberanian atau syaja’ah.

Keberanian yang berada dalam jalur yang tepat dapat membuat seseorang tegas dalam membela kebenaran, berani menghadapi kesulitan, mampu memaafkan, serta bersungguh-sungguh dalam memenuhi janji.

Namun ketika amarah tidak dikendalikan, sifat tersebut dapat berubah menjadi kesombongan, penghinaan, kekerasan, dan tindakan yang melewati batas.

Karena itu, ukuran kekuatan seseorang tidak semata-mata terlihat dari kemampuan menghadapi lawan secara fisik.

Kemampuan mengendalikan diri ketika emosi justru menjadi bentuk kekuatan yang lebih tinggi.

Rasulullah SAW bersabda: “Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan amarah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan tersebut menunjukkan bahwa keberanian sejati tidak harus diwujudkan dengan kemarahan.

Justru orang yang kuat adalah mereka yang mampu mengendalikan emosinya ketika memiliki kesempatan untuk melampiaskannya.

Mengarahkan Syahwat agar Tidak Berubah Menjadi Keserakahan

Selain akal dan amarah, manusia juga memiliki syahwat atau dorongan terhadap berbagai keinginan.

Potensi ini merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi tetap membutuhkan pengendalian.

Ketika syahwat dapat diarahkan secara benar, lahirlah sifat ‘iffah, yaitu kemampuan menjaga kehormatan dan menahan diri dari keinginan yang berlebihan.

Dari sifat tersebut dapat tumbuh berbagai akhlak baik seperti kesabaran, kemurahan hati, sikap menjaga diri, serta kepedulian kepada sesama.

Sebaliknya, keinginan yang tidak terkendali dapat membuat seseorang terus mengejar sesuatu tanpa batas.

Dari sinilah dapat muncul rasa iri, hasad, fitnah, permusuhan, hingga keinginan menjatuhkan orang lain.

Allah SWT berfirman: “Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu, maka sungguh surga tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kemampuan menahan hawa nafsu merupakan bagian penting dalam perjalanan manusia menuju keselamatan.

Empat Fondasi yang Menopang Akhlak Mulia

Dalam penjelasan para ulama, terdapat empat sifat utama yang menjadi dasar berbagai akhlak terpuji dalam diri manusia.

BACA:  Kotoran Hati Lebih Berbahaya daripada Kotoran Tubuh, Inilah Cara Membersihkannya Menurut Islam

Pertama adalah hikmah, yaitu kebijaksanaan yang berkaitan dengan kesempurnaan penggunaan akal untuk membedakan antara yang benar dan yang salah.

Kedua adalah syaja’ah, yakni keberanian yang muncul ketika potensi amarah dapat dikendalikan dan diarahkan secara tepat.

Ketiga adalah ‘iffah, yaitu kemampuan menjaga diri dan mengendalikan syahwat agar tidak membawa seseorang kepada perilaku yang berlebihan.

Keempat adalah ‘adalah, yakni keadilan yang berfungsi menjaga keseimbangan seluruh potensi tersebut.

Keempat sifat itu saling berkaitan. Akal membutuhkan keadilan agar tidak digunakan untuk tujuan yang salah.

Amarah membutuhkan keadilan agar keberanian tidak berubah menjadi kekerasan.

Begitu pula syahwat membutuhkan keadilan agar keinginan tidak berkembang menjadi keserakahan.

Jika keempat fondasi tersebut tumbuh dengan baik, maka berbagai sifat mulia lainnya akan lebih mudah berkembang dalam diri seseorang.

Rasulullah SAW sebagai Teladan Akhlak

Kesempurnaan akhlak tersebut tercermin dalam kehidupan Rasulullah SAW.

Beliau menjadi teladan dalam menggunakan akal, mengendalikan emosi, mengarahkan keinginan, sekaligus memperlakukan manusia dengan penuh keadilan.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Ayat tersebut menjadi penegasan mengenai kedudukan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam akhlak.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai tersebut dapat diterapkan melalui hal-hal sederhana.

Berpikir sebelum mengambil keputusan, menahan amarah ketika menghadapi masalah, mengendalikan keinginan, serta memperlakukan orang lain secara adil merupakan bagian dari latihan membangun akhlak.

Keadilan Menjadi Penjaga Harmoni dalam Diri

Keadilan dapat dipahami sebagai salah satu kunci penting dalam membangun kepribadian yang seimbang.

Ia bukan hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan dirinya sendiri.

Keadilan membantu manusia menempatkan akal, emosi, dan keinginan pada posisi yang semestinya.

Ketika ketiganya berjalan secara seimbang, lahirlah kebijaksanaan, keberanian, kemampuan menjaga diri, serta berbagai bentuk akhlak terpuji.

Sebaliknya, ketika keseimbangan itu hilang, potensi yang sebenarnya dapat menjadi sumber kebaikan justru dapat berubah menjadi sumber kerusakan.

Karena itu, menjaga keadilan dalam diri bukan perkara sederhana.

Ia membutuhkan latihan, kesadaran, pengendalian diri, serta kemauan untuk terus memperbaiki akhlak.

Dengan keadilan, manusia tidak hanya belajar memperlakukan orang lain secara benar, tetapi juga belajar menata dirinya sendiri.

Dari sinilah akhlak mulia dapat tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sehingga manusia mampu menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana dan mendekatkan diri kepada ridha Allah SWT. (kangtop)