KONCOdewe.com – Tekanan darah merupakan salah satu indikator penting yang menggambarkan seberapa besar kekuatan jantung saat memompa darah ke seluruh tubuh.
Nilai tekanan darah setiap orang tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari usia, pola makan, kondisi kesehatan, hingga aktivitas yang dilakukan setiap hari.
Karena itu, hasil pengukuran tekanan darah dapat berubah-ubah sesuai kondisi tubuh.
Secara alami, tekanan darah akan berada pada titik terendah saat seseorang sedang tidur.
Setelah bangun di pagi hari, tekanan darah mulai meningkat seiring tubuh kembali beraktivitas.
Nilainya biasanya mencapai puncak pada siang hari ketika aktivitas fisik dan tingkat stres cenderung lebih tinggi.
Perubahan tersebut merupakan hal yang normal selama masih berada dalam batas yang sehat.
Karena tekanan darah dapat berfluktuasi, diagnosis hipertensi tidak bisa ditegakkan hanya dari satu kali pemeriksaan.
Pengukuran tekanan darah perlu dilakukan sedikitnya tiga kali pada waktu yang berbeda dengan jarak sekitar satu minggu.
Cara ini bertujuan memastikan bahwa kenaikan tekanan darah bukan dipicu oleh faktor sementara, seperti kelelahan, stres, emosi, atau aktivitas fisik yang berat.
Berapa Tekanan Darah yang Dianggap Normal?
Berdasarkan pedoman yang diterima Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta dijelaskan dalam Buku Obat-Obatan Penting karya Drs. Tan Hoan Tjay dan Drs. Kirana Rahardja, tekanan darah normal pada orang dewasa sehat berada di kisaran 120/80 mmHg.
Angka 120 menunjukkan tekanan sistolik, yaitu tekanan saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh.
Sementara angka 80 merupakan tekanan diastolik, yakni tekanan ketika jantung berada pada fase istirahat sebelum memompa kembali.
Jika hasil pengukuran melebihi angka tersebut secara konsisten, seseorang berisiko mengalami hipertensi yang terbagi dalam beberapa tingkatan.
Klasifikasi Tekanan Darah pada Orang Dewasa
Tekanan darah orang dewasa umumnya dibagi menjadi beberapa kategori.
Tekanan darah normal tinggi berada pada kisaran sistolik 130–139 mmHg atau diastolik 85–89 mmHg.
Sementara itu, hipertensi tingkat 1 ditandai dengan tekanan sistolik 140–159 mmHg atau diastolik 90–99 mmHg.
Jika tekanan sistolik mencapai 160 mmHg atau lebih, maupun diastolik 100 mmHg atau lebih, kondisi tersebut termasuk hipertensi tingkat 2.
Pada orang yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular, seperti diabetes tipe 2, target tekanan darah umumnya lebih rendah, yakni di bawah 130/80 mmHg untuk membantu mengurangi risiko komplikasi.
Tekanan Darah Cenderung Meningkat Seiring Bertambahnya Usia
Seiring bertambahnya usia, pembuluh darah mengalami proses pengerasan atau penurunan elastisitas.
Kondisi ini menyebabkan tekanan darah cenderung meningkat secara alami.
Pada sebagian lansia berusia di atas 65 tahun yang tidak memiliki faktor risiko penyakit jantung maupun pembuluh darah, tekanan darah sekitar 150–160/80–90 mmHg masih dianggap dapat diterima oleh sebagian tenaga medis.
Namun demikian, pemeriksaan rutin tetap diperlukan agar perubahan tekanan darah dapat dipantau secara berkala.
Sebagian Besar Hipertensi Tidak Diketahui Penyebab Pastinya
Mengacu pada buku Bebas Hipertensi Tanpa Obat karya Lanny Lingga, sekitar 90 hingga 95 persen kasus hipertensi termasuk hipertensi primer, yaitu tekanan darah tinggi yang tidak memiliki penyebab pasti.
Meski demikian, para ahli menduga kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor.
Seperti obesitas, resistensi insulin, rendahnya kadar nitrogen monoksida, kekurangan kalium, sensitivitas terhadap garam.
Konsumsi alkohol, kekurangan vitamin D, bertambahnya usia, faktor keturunan, aktivitas saraf simpatik yang berlebihan, hingga berat badan lahir rendah.
Hipertensi Sekunder Dipicu Penyakit atau Obat-obatan
Berbeda dengan hipertensi primer, hipertensi sekunder memiliki penyebab yang lebih jelas.
Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai penyakit maupun penggunaan obat tertentu.
Beberapa penyebabnya antara lain penyakit ginjal, tumor pada ginjal, hipertensi saat kehamilan, gangguan hormon seperti sindrom Cushing, sleep apnea.
Serta penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen.
Selain itu, pil kontrasepsi, kortikosteroid, pseudoefedrin, terapi pengganti hormon, penggunaan steroid, konsumsi kokain, nikotin, hingga penggunaan herbal akar manis dalam jangka panjang juga diketahui dapat meningkatkan tekanan darah.
Waspadai Faktor Risiko Sejak Dini
Meskipun penyebab pasti hipertensi sering kali tidak diketahui, berbagai faktor risiko tetap perlu diwaspadai.
Menjaga pola makan sehat, membatasi konsumsi garam, mempertahankan berat badan ideal, rutin berolahraga, menghindari rokok dan alkohol.
Serta melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala menjadi langkah penting untuk mencegah hipertensi.
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga berbagai komplikasi serius lainnya.
Oleh karena itu, mengenali tekanan darah normal dan memahami faktor penyebabnya menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah dalam jangka panjang. (kangtop)








