Jangan Salah Paham, Marah dan Iri Ternyata Punya Hikmah Besar jika Dikelola Sesuai Tuntunan Islam

Lifestyle, Religi44 Dilihat

KONCOdewe.com – Banyak orang menganggap marah dan iri sebagai sifat yang sepenuhnya buruk sehingga harus dihilangkan dari dalam diri.

Padahal, dalam pandangan Islam, kedua emosi tersebut merupakan bagian dari fitrah manusia yang diciptakan Allah SWT dengan tujuan tertentu.

Marah maupun iri bukanlah kesalahan selama mampu dikendalikan dan diarahkan sesuai tuntunan syariat.

Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai potensi lahir dan batin sebagai bekal menjalani kehidupan.

Akal, hati, ruh, serta nafsu saling melengkapi dalam membentuk karakter seseorang.

Di antara potensi tersebut terdapat emosi yang berfungsi sebagai penggerak tindakan, sekaligus menjadi ujian agar manusia mampu mengendalikan dirinya dengan iman dan akhlak yang baik.

Permasalahan bukan terletak pada munculnya rasa marah atau iri, melainkan pada bagaimana seseorang menyikapi dan mengelolanya.

Ketika emosi dikuasai hawa nafsu, ia dapat berubah menjadi sumber kerusakan.

Sebaliknya, apabila diarahkan dengan kebijaksanaan, emosi justru menjadi sarana untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Marah Bukan Musuh, tetapi Benteng untuk Menolak Kezaliman

Marah merupakan salah satu naluri yang diberikan Allah SWT agar manusia mampu mempertahankan diri dari ancaman, ketidakadilan, maupun tindakan yang merugikan.

Dengan adanya rasa marah, seseorang memiliki keberanian untuk menjaga kehormatan, membela hak, dan melindungi diri maupun orang lain dari kezaliman.

Tanpa kemampuan merasakan marah, manusia bisa menjadi pribadi yang pasif dan membiarkan kemungkaran terjadi di sekitarnya.

Karena itu, marah pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang tercela, melainkan naluri yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan.

Namun Islam memberikan batasan yang tegas.

Kemarahan tidak boleh berubah menjadi kebencian yang membabi buta, apalagi mendorong seseorang melakukan kekerasan, menghina orang lain, atau mengambil keputusan secara emosional.

BACA:  Bukan Sekadar Kerja Keras, Delapan Kebiasaan Ini Diam-Diam Membawa Seseorang Menuju Sukses

Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri ketika marah.

Al-Qur’an juga memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan sesamanya sebagai golongan yang dicintai Allah SWT.

Iri yang Positif Dapat Menjadi Motivasi Berprestasi

Selain marah, rasa iri juga merupakan bagian dari karakter manusia.

Perasaan ini muncul ketika seseorang melihat kelebihan yang dimiliki orang lain dan berharap memperoleh hal serupa.

Islam membedakan dengan jelas antara iri yang dibenarkan dan iri yang tercela.

Iri yang positif atau ghibthah adalah keinginan memiliki kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang dari mereka.

Perasaan seperti ini justru dapat memacu seseorang untuk belajar lebih giat, bekerja lebih sungguh-sungguh, dan memperbaiki kualitas dirinya.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sikap seperti ini dibenarkan, terutama terhadap orang yang memanfaatkan hartanya di jalan Allah serta orang yang diberikan ilmu lalu mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.

Sebaliknya, iri yang berubah menjadi hasad merupakan penyakit hati yang berbahaya.

Hasad membuat seseorang tidak rela melihat orang lain memperoleh nikmat dan berharap kenikmatan tersebut lenyap.

Dari sinilah lahir berbagai persoalan seperti fitnah, permusuhan, hingga putusnya tali persaudaraan.

Islam Mengajarkan Jalan Tengah dalam Mengelola Emosi

Salah satu keindahan ajaran Islam adalah prinsip keseimbangan atau wasathiyah.

Setiap potensi yang dimiliki manusia diarahkan agar berjalan pada porsinya, tidak berlebihan dan tidak pula dihilangkan sama sekali.

Marah digunakan untuk melawan kezaliman, bukan untuk melampiaskan kebencian.

Demikian pula rasa iri diarahkan menjadi motivasi meningkatkan kualitas diri, bukan menjadi alasan menjatuhkan orang lain.

Al-Qur’an menyebut umat Islam sebagai umat yang moderat, yaitu mampu menempatkan segala sesuatu secara proporsional.

BACA:  Takwa Bukan Hanya Menjauhi Dosa, Ada Satu Bentuk Keburukan yang Sering Luput dari Perhatian

Prinsip inilah yang menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai gejolak emosi agar tidak berubah menjadi perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Bahaya Ketika Emosi Dikuasai Hawa Nafsu

Marah dan iri yang tidak dikendalikan akan kehilangan fungsi utamanya. Kemarahan dapat berubah menjadi tindakan kasar, permusuhan, bahkan kezaliman.

Sementara iri yang tidak diarahkan dengan benar berkembang menjadi dengki yang menggerogoti hati dan menghilangkan rasa syukur.

Dalam kondisi seperti itu, seseorang lebih banyak mengikuti hawa nafsu daripada petunjuk akal dan iman.

Akibatnya, hubungan dengan sesama menjadi rusak, kehidupan dipenuhi konflik, dan hati kehilangan ketenangan.

Banyak persoalan dalam keluarga, lingkungan kerja, hingga masyarakat berawal dari emosi yang tidak mampu dikendalikan.

Oleh sebab itu, pengendalian diri menjadi salah satu tanda kedewasaan spiritual sekaligus kematangan kepribadian.

Mengendalikan Emosi sebagai Wujud Kematangan Iman

Mengelola marah dan iri membutuhkan latihan yang terus-menerus.

Memperbanyak zikir, memperkuat kesabaran, meningkatkan rasa syukur, serta memperbaiki niat menjadi cara yang dianjurkan Islam agar hati tetap bersih dari pengaruh hawa nafsu.

Ketika seseorang mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan menjadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, ia sedang membangun akhlak yang mulia.

Sikap inilah yang akan menghadirkan ketenangan batin sekaligus memperkuat hubungan sosial.

Dengan demikian, marah dan iri bukanlah emosi yang harus dihapuskan dari kehidupan manusia.

Keduanya merupakan anugerah Allah SWT yang memiliki hikmah besar apabila dikelola secara benar.

Dengan menjadikan iman sebagai pengendali dan akhlak sebagai pedoman, setiap orang dapat mengubah emosi menjadi kekuatan untuk memperbaiki diri, menjaga hubungan dengan sesama.

Serta meraih kehidupan yang lebih damai dan penuh keberkahan. (kangtop)