Mengapa Manusia Selalu Mencari Tuhan? Ini Penjelasan Fitrah Ketuhanan dan Pentingnya Wahyu sebagai Penuntun Hidup

Religi54 Dilihat

KONCOdewe.com – Di dalam diri setiap manusia sesungguhnya telah tertanam sebuah naluri yang tidak pernah benar-benar hilang.

Yaitu keinginan untuk mengenal asal-usul kehidupannya dan menemukan Sang Pencipta.

Naluri tersebut bukan hasil pembelajaran ataupun warisan budaya semata, melainkan fitrah yang telah Allah tanamkan sejak manusia dilahirkan ke dunia.

Ketika seseorang merenungi luasnya langit, keteraturan alam semesta, pergantian siang dan malam, hingga kehidupan yang terus berjalan dengan begitu seimbang.

Muncul kesadaran bahwa semua itu tidak mungkin terjadi tanpa adanya Zat Yang Maha Mengatur.

Kesadaran inilah yang menjadi titik awal manusia dalam mengenal Tuhan.

Rahmat Allah sebenarnya senantiasa hadir dalam setiap detik kehidupan.

Nikmat kesehatan, udara yang dihirup, hujan yang menyuburkan bumi, hingga kasih sayang antarmanusia merupakan bagian dari limpahan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Meski demikian, tidak semua manusia mampu mengenali dari mana seluruh kenikmatan itu berasal.

Pencarian Tuhan Sejak Awal Peradaban

Perjalanan sejarah memperlihatkan bahwa manusia sejak dahulu selalu berusaha menemukan sosok yang layak disembah.

Namun, keterbatasan pengetahuan sering kali membuat pencarian tersebut berjalan ke arah yang keliru.

Pada masa-masa awal peradaban, manusia lebih mengandalkan pengamatan terhadap alam.

Segala sesuatu yang tampak besar, kuat, atau menghadirkan rasa takut kemudian dianggap memiliki kekuatan gaib.

Dari sinilah lahir berbagai bentuk kepercayaan yang menjadikan benda-benda alam sebagai objek penghormatan.

Gunung, pepohonan besar, sungai, batu, hingga matahari dan bulan dipercaya memiliki kekuatan supranatural.

Masyarakat saat itu memberikan sesaji dan melakukan ritual tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada apa yang mereka anggap mampu memengaruhi kehidupan.

Animisme dan dinamisme berkembang sebagai wujud pencarian spiritual manusia.

Walaupun dilandasi keinginan untuk menemukan Tuhan, arah pencarian tersebut belum mampu mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Allah sebagai satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika Akal Berjalan Tanpa Petunjuk Wahyu

Kemampuan berpikir merupakan anugerah besar yang diberikan Allah kepada manusia.

Namun akal memiliki batas yang tidak mampu menembus seluruh hakikat kehidupan apabila berjalan sendiri tanpa bimbingan wahyu.

Dalam sejarah peradaban besar seperti Yunani, India, hingga Cina, manusia berhasil melahirkan berbagai pemikiran luar biasa dalam bidang filsafat, seni, dan ilmu pengetahuan.

Akan tetapi, kemajuan intelektual tersebut tidak selalu sejalan dengan pemahaman yang benar mengenai Tuhan.

Sebagian memandang Tuhan sebagai personifikasi alam, sebagian lainnya menggambarkan Tuhan menyerupai manusia dengan berbagai sifat dan kelemahannya.

BACA:  Banyak yang Baru Sadar, Ternyata Ini Rahasia Rezeki yang Tak Pernah Habis ala KDM

Padahal Allah berada di atas segala sesuatu, tidak menyerupai makhluk, tidak bergantung kepada siapa pun, dan menjadi Pencipta seluruh alam semesta.

Allah mengetahui segala sesuatu yang tampak maupun yang tersembunyi. Tidak ada satu pun kejadian yang berlangsung tanpa ilmu dan kehendak-Nya.

Seluruh aturan yang Allah tetapkan berupa perintah maupun larangan sejatinya merupakan bentuk kasih sayang agar manusia menjalani kehidupan dengan benar.

Wahyu Menjadi Cahaya bagi Kehidupan

Allah tidak membiarkan manusia mencari jalan hidup sendirian.

Karena kasih sayang-Nya, Dia mengutus para nabi dan rasul sebagai pembawa petunjuk agar manusia mengetahui siapa Tuhan yang sebenarnya serta bagaimana cara beribadah kepada-Nya.

Melalui wahyu, manusia memperoleh pedoman yang tidak hanya mengatur hubungan dengan Allah.

Tetapi juga mengajarkan akhlak, keadilan, kasih sayang, dan tata kehidupan yang membawa kemaslahatan.

Tanpa wahyu, manusia sangat mungkin tersesat oleh hawa nafsu, tradisi, ataupun logika yang terbatas.

Sebaliknya, dengan wahyu, kehidupan memiliki arah yang jelas menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Nabi Ibrahim a.s. dan Perjalanan Menemukan Kebenaran

Salah satu kisah yang paling menggambarkan pencarian Tuhan adalah perjalanan hidup Nabi Ibrahim a.s.

Beliau lahir di lingkungan masyarakat yang menjadikan berhala sebagai sesembahan.

Tradisi tersebut diwariskan turun-temurun sehingga dianggap sebagai kebenaran oleh hampir seluruh masyarakat saat itu.

Namun Ibrahim tidak menerima keyakinan tersebut begitu saja. Ia menggunakan akal sehat dan hati yang bersih untuk mencari hakikat Tuhan.

Ia mengamati bintang-bintang yang bersinar di malam hari, bulan yang menerangi langit, hingga matahari yang memancarkan cahaya paling terang.

Semua sempat menjadi objek renungannya karena tampak begitu agung dibandingkan makhluk lainnya.

Akan tetapi, Ibrahim menyadari bahwa seluruh benda langit itu mengalami perubahan. Mereka terbit, tenggelam, muncul, lalu menghilang.

Sesuatu yang berubah dan bergantung pada waktu tentu tidak layak disebut Tuhan.

Kesadaran tersebut membuat Ibrahim menyampaikan pengakuan yang sangat mendalam sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an.

Bahwa apabila Allah tidak memberinya petunjuk, niscaya ia termasuk orang-orang yang tersesat.

Dari sanalah Allah menurunkan wahyu, mengangkat Ibrahim sebagai nabi sekaligus rasul, dan menjadikannya Khalilullah atau kekasih Allah.

Melalui beliau, ajaran tauhid kembali ditegakkan sehingga manusia mengetahui bahwa hanya Allah Yang Maha Esa yang pantas disembah.

Shalat, Wujud Ketundukan Seorang Hamba

BACA:  Halal vs Lebih Mulia: Perbedaan yang Bisa Mengubah Kualitas Ibadah

Di antara seluruh bentuk ibadah yang diajarkan Allah melalui para nabi, shalat memiliki kedudukan yang sangat istimewa.

Shalat bukan sekadar gerakan dan bacaan, tetapi menjadi sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Kesadaran menjaga shalat telah tampak sejak masa Nabi Ibrahim a.s.

Beliau bahkan memohon kepada Allah agar dirinya dan keturunannya termasuk orang-orang yang senantiasa menegakkan shalat.

Syariat shalat memang telah dikenal oleh para nabi terdahulu. Namun penyempurnaannya baru diberikan kepada Rasulullah SAW sebagai nabi terakhir.

Perintah shalat diterima Rasulullah SAW secara langsung ketika peristiwa Isra Mi’raj.

Tidak seperti syariat lainnya yang disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril, kewajiban shalat diberikan langsung oleh Allah SWT.

Hal tersebut menunjukkan betapa agungnya kedudukan ibadah ini dalam Islam.

Shalat menjadi penyangga utama keimanan seorang muslim.

Melalui shalat, manusia diingatkan agar tidak larut dalam kesibukan dunia dan tetap menjaga hubungan dengan Allah sebagai tujuan akhir kehidupan.

Islam sebagai Pedoman Hidup yang Sempurna

Berbeda dengan umat-umat terdahulu yang menerima syariat secara bertahap, umat Nabi Muhammad SAW memperoleh ajaran Islam dalam bentuk yang telah sempurna.

Islam tidak hanya mengatur tata cara ibadah, tetapi juga membimbing manusia dalam kehidupan sosial, ekonomi, keluarga, hingga akhlak.

Seluruh aturan tersebut hadir sebagai rahmat, bukan sebagai beban.

Karena itu, tugas seorang muslim bukan menciptakan aturan baru dalam beragama, melainkan menjalankan syariat yang telah diturunkan Allah melalui Rasulullah SAW dengan penuh keikhlasan.

Ketaatan terhadap syariat menjadi jalan menuju kebahagiaan dunia sekaligus keselamatan di akhirat.

Menjelang wafatnya, Rasulullah SAW meninggalkan pesan yang sangat penting kepada umatnya.

Beliau mengingatkan agar kaum muslimin menjaga shalat, memperhatikan hak-hak kaum lemah, serta tetap berpegang teguh pada ajaran Islam.

Ungkapan Rasulullah SAW bahwa shalat merupakan penyejuk hatinya menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kemewahan dunia, melainkan pada kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT.

Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi berbagai tantangan, pesan tersebut tetap relevan.

Manusia akan selalu membutuhkan petunjuk Ilahi agar tidak kehilangan arah.

Ketika wahyu dijadikan pedoman, akal digunakan dengan benar, dan ibadah dijalankan dengan penuh keikhlasan.

Maka kehidupan akan menemukan keseimbangan, ketenangan, serta harapan menuju keselamatan yang hakiki. (kangtop)