Mengapa Orang yang Suka Memerintah Justru Sering Kehilangan Rasa Hormat? Ini Penjelasannya

Lifestyle27 Dilihat

KONCOdewe.com – Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap orang pernah bertemu dengan sosok yang gemar memberi perintah, tetapi sulit menerima arahan dari orang lain.

Ia mudah menyuruh, namun keberatan ketika diminta melakukan sesuatu. Ia senang didengar, tetapi enggan mendengarkan.

Sikap seperti ini mungkin tampak sepele.

Namun jika terus dipelihara, ia dapat menjadi bibit kesombongan yang perlahan merusak hubungan dengan keluarga, sahabat, rekan kerja, bahkan masyarakat.

Pada dasarnya, kehidupan manusia tidak pernah menempatkan seseorang hanya sebagai pemimpin atau hanya sebagai pengikut.

Ada saatnya seseorang berada di depan untuk mengarahkan, tetapi ada pula masa ketika ia harus belajar menerima arahan dari orang lain.

Karena itulah, kemampuan memimpin dan kesediaan dipimpin merupakan dua sikap yang tidak dapat dipisahkan.

Ketika Ego Merasa Selalu Paling Benar

Sikap suka memerintah tetapi tidak mau diperintah umumnya lahir dari perasaan bahwa dirinya lebih tahu, lebih mampu, atau lebih tinggi daripada orang lain.

Akibatnya, setiap nasihat dianggap sebagai bentuk campur tangan.

Setiap kritik dipandang sebagai ancaman. Setiap masukan dianggap merendahkan harga dirinya.

Padahal, tidak ada manusia yang sempurna. Setinggi apa pun jabatan seseorang, selalu ada ruang untuk belajar dan menerima pandangan dari orang lain.

Orang yang menutup diri terhadap nasihat sesungguhnya sedang menutup kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Sebaliknya, orang yang bersedia mendengar akan lebih mudah berkembang karena mau belajar dari pengalaman siapa pun.

Sikap Ini Banyak Dijumpai dalam Kehidupan

Fenomena tersebut dapat ditemukan hampir di setiap lingkungan.

Dalam keluarga, ada orang tua yang hanya ingin didengar tanpa pernah memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat.

Di lingkungan pertemanan, ada seseorang yang selalu ingin mengatur kegiatan bersama, tetapi langsung tersinggung ketika usulannya tidak diterima.

Di tempat kerja, tidak sedikit atasan yang terus memberikan target kepada bawahannya, namun menolak kritik atau masukan yang sebenarnya bertujuan memperbaiki kinerja organisasi.

Dalam kehidupan bermasyarakat pun hal serupa sering terjadi.

Ketika seseorang memperoleh kekuasaan, ia merasa semua orang wajib mengikuti kehendaknya.

Padahal, kepemimpinan bukanlah hak untuk selalu dilayani, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Kisah “Si Raja Perintah”

Di sebuah desa hiduplah seorang pria yang dikenal masyarakat dengan julukan Si Raja Perintah.”

BACA:  Kelihatannya Sama, Tapi Beda Jauh… Ini Cara Mengetahui Sahabat Sejati yang Sebenarnya

Ia memiliki kemampuan berbicara yang baik dan sering tampil paling depan setiap ada kegiatan.

Saat warga bergotong royong, dialah yang sibuk membagi tugas.

Ketika ada rapat desa, ia selalu menjadi orang pertama yang memberi instruksi.

Pada awalnya, warga menghormatinya karena menganggap dirinya memiliki semangat memimpin.

Namun seiring waktu, mereka mulai menyadari satu hal. Ia hanya pandai memerintah.

Saat ada orang yang mencoba memberikan saran atau mengingatkan kekeliruannya, ia langsung marah.

“Siapa kamu berani menyuruh saya?” ucapnya suatu hari.

Puncaknya terjadi ketika banjir besar melanda desa. Seluruh warga turun tangan memperkuat tanggul dan menyelamatkan barang-barang milik penduduk.

Sementara itu, “Si Raja Perintah” hanya berdiri di tepi jalan sambil terus memberikan instruksi tanpa ikut bekerja.

Lama-kelamaan warga merasa kecewa. Mereka memilih bekerja tanpa lagi mendengarkan perintahnya.

Sejak saat itu, wibawanya perlahan menghilang.

Ia baru menyadari bahwa penghormatan bukan lahir dari banyaknya perintah yang diucapkan, melainkan dari keteladanan yang diperlihatkan.

Kepemimpinan Bukan Tentang Kekuasaan

Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan simbol kehebatan.

Semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula pertanggungjawaban yang akan dimintai oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW merupakan teladan terbaik dalam memimpin.

Meskipun menjadi pemimpin umat, beliau tetap rendah hati, bermusyawarah dengan para sahabat, dan menerima pendapat yang lebih baik apabila memang membawa kemaslahatan.

Beliau tidak pernah menganggap dirinya paling benar hanya karena memiliki kedudukan tertinggi.

Sikap inilah yang membuat kepemimpinan Rasulullah SAW dicintai sekaligus dihormati.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab kepemimpinan sesuai perannya masing-masing.

Namun pada saat yang sama, setiap manusia juga menjadi pengikut dalam keadaan tertentu.

Taat Bukan Berarti Rendah

Sebagian orang merasa bahwa menerima arahan akan menurunkan wibawanya. Padahal kenyataannya justru sebaliknya.

Orang yang mampu menaati aturan biasanya lebih mudah dihormati ketika memimpin.

Sebab ia memahami bagaimana rasanya berada di posisi orang yang dipimpin.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)

BACA:  Mengapa Allah Bersumpah Demi Waktu? Jawabannya Bisa Mengubah Cara Anda Menjalani Hidup

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan membutuhkan keteraturan.

Setiap orang memiliki kewajiban untuk menaati aturan selama berada dalam kebenaran dan tidak bertentangan dengan syariat Allah SWT.

Mengapa Ada Orang Sulit Diperintah?

Ada beberapa penyebab yang membuat seseorang enggan menerima arahan.

Pertama, keinginan untuk selalu menguasai keadaan sehingga merasa harus menjadi pihak yang paling menentukan.

Kedua, rasa takut kehilangan wibawa apabila mengikuti pendapat orang lain.

Ketiga, kebiasaan sejak kecil yang selalu dilayani sehingga tidak terbiasa menerima instruksi.

Keempat, minimnya pengalaman menjadi bawahan sehingga sulit memahami pentingnya menghargai pemimpin lain.

Apa pun penyebabnya, sikap tersebut perlu dikendalikan sebelum berubah menjadi kesombongan.

Karena kesombongan sering kali membuat seseorang menolak kebenaran hanya karena datang dari orang lain.

Belajar Memimpin dengan Kerendahan Hati

Hidup ibarat roda yang terus berputar. Hari ini seseorang mungkin menjadi pemimpin.

Esok hari ia bisa berada pada posisi yang harus mengikuti arahan orang lain.

Tidak ada jabatan yang abadi. Tidak ada kekuasaan yang berlangsung selamanya.

Karena itu, orang yang bijaksana akan belajar menjalankan kedua peran tersebut dengan seimbang.

Saat memimpin, ia melayani. Saat dipimpin, ia menghormati.

Saat memberi arahan, ia tetap terbuka terhadap kritik. Saat menerima nasihat, ia tidak merasa direndahkan.

Sikap inilah yang melahirkan pemimpin berwibawa sekaligus pribadi yang rendah hati.

Wibawa Lahir dari Keteladanan

Seseorang tidak dihormati karena kerasnya suara ketika memberi perintah. Wibawa tidak lahir dari banyaknya orang yang dipaksa menaati.

Penghormatan tumbuh karena keteladanan, kejujuran, serta kesediaan untuk mendengar dan belajar.

Orang yang hanya ingin memerintah lambat laun akan kehilangan kepercayaan.

Sebaliknya, mereka yang mampu memimpin sekaligus siap dipimpin akan selalu mendapatkan tempat di hati banyak orang.

Karena itu, sebelum meminta orang lain menaati kita, belajarlah terlebih dahulu menaati aturan, menghargai pendapat, dan menerima nasihat dengan lapang dada.

Itulah hakikat kepemimpinan dalam Islam,  bukan sekadar kemampuan memberi perintah.

Tetapi juga kerendahan hati untuk terus belajar, menerima arahan, serta menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab demi meraih ridha Allah SWT. (kangtop)