Awan Panas Guguran Muncul Lagi di Gunung Merapi, Ini Wilayah yang Perlu Diwaspadai

Kabar44 Dilihat

KONCOdewe.com – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan dengan terjadinya awan panas guguran pada Rabu (30/9/2026) sore.

Gunung yang berada di wilayah perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah tersebut meluncurkan awan panas pada pukul 15.51 WIB.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat material awan panas guguran meluncur sekitar 2 kilometer ke arah barat daya, tepatnya menuju kawasan hulu Kali Sat/Putih.

Berdasarkan laporan Badan Geologi, peristiwa tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 20,9 milimeter dan berlangsung selama 155,21 detik.

Masyarakat yang berada di sekitar Gunung Merapi diminta meningkatkan kewaspadaan dengan menjauhi kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah bahaya serta tidak beraktivitas di alur sungai yang berhulu di gunung tersebut.

Warga juga diminta mengikuti setiap rekomendasi resmi dari otoritas terkait.

“Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya dan alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta mematuhi rekomendasi resmi,” ujar Badan Geologi dalam laporannya.

Status Merapi Masih Level III

Hingga Rabu (30/9/2026), status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.

Dalam pemantauan selama enam jam pada pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, aktivitas kegempaan Merapi masih didominasi oleh gempa guguran.

BPPTKG mencatat sebanyak 23 kali gempa guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 89 milimeter dan durasi berkisar 32,05 sampai 150,91 detik.

Selain gempa guguran, tercatat 20 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2-41 milimeter.

Pemantauan juga mendeteksi satu kali gempa vulkanik dangkal dan satu kali gempa tektonik jauh.

Dari pengamatan visual, kondisi puncak Merapi sempat terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat 0-III.

BACA:  Harga Pangan Nasional 20 Agustus 2026: Cabai Rawit Rp52.750, Telur Ayam Rp22.650

Asap kawah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal juga terlihat naik hingga sekitar 25 meter dari atas puncak.

Suplai Magma Masih Berlangsung

BPPTKG menyampaikan hasil pemantauan menunjukkan proses suplai magma ke Gunung Merapi masih berlangsung.

Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya.

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas berada terutama di sektor selatan hingga barat daya.

Di sektor tersebut, bahaya dapat mengarah ke Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer, sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki potensi bahaya hingga sejauh 7 kilometer.

Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi guguran lava dan awan panas dapat mencapai Sungai Woro hingga 3 kilometer serta Sungai Gendol hingga maksimal 5 kilometer.

BPPTKG meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk dalam daerah potensi bahaya.

Warga juga diminta mewaspadai kemungkinan lahar dan awan panas guguran, terutama ketika hujan turun di sekitar kawasan Gunung Merapi.

“Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya, serta mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran terutama saat hujan turun di kawasan Gunung Merapi,” tulisnya. (kangtop)