KONCOdewe.com – Kemerdekaan Indonesia bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap 17 Agustus.
Di balik bendera yang dikibarkan, upacara yang dilaksanakan, dan berbagai kegiatan peringatan kemerdekaan.
Terdapat perjalanan panjang para pejuang yang mempertaruhkan pikiran, tenaga, harta bahkan nyawa demi membebaskan tanah air dari penjajahan.
Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sudah semestinya kita memahami bahwa kemerdekaan merupakan salah satu nikmat besar yang patut disyukuri.
Rasa syukur itu bukan hanya diwujudkan dengan merayakan hari kemerdekaan.
Tetapi juga dengan mengenang jasa para pahlawan dan melanjutkan cita-cita baik yang telah mereka perjuangkan.
Lantas, seperti apa sebenarnya makna syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, termasuk nikmat kemerdekaan?
Memahami Nikmat dalam Kehidupan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia menerima begitu banyak kenikmatan.
Sebagian nikmat dapat terlihat secara langsung, sementara sebagian lainnya baru terasa ketika kita menyadari betapa pentingnya keberadaannya.
Salah satu bentuk nikmat adalah نِعْمَةٌ خَارِجِيَّةٌ atau nikmat yang berada di luar tubuh manusia.
Makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan berbagai fasilitas yang menunjang kehidupan dapat menjadi contoh nikmat tersebut.
Namun, semua kenikmatan dari luar itu tidak akan terasa sempurna jika manusia kehilangan kemampuan untuk merasakannya.
Karena itu, terdapat nikmat lain yang tidak kalah penting, yakni نِعْمَةُ الْحَوَاسِّ, atau nikmat berupa pancaindra dan kemampuan tubuh dalam merasakan berbagai keadaan.
Rasa panas, dingin, lapar, haus, mengantuk dan berbagai sensasi lainnya sebenarnya merupakan bagian dari nikmat yang sering tidak kita sadari.
Bayangkan apabila manusia tidak memiliki kemampuan merasakan panas. Minuman yang baru saja mendidih bisa saja langsung diminum dan membahayakan tubuh.
Begitu pula rasa mengantuk yang menjadi alarm alami bagi tubuh agar beristirahat.
Tanpa kemampuan tersebut, seseorang bisa saja terus memaksakan diri hingga membahayakan keselamatan.
Begitu pula rasa lapar. Justru karena lapar, makanan sederhana pun dapat terasa begitu nikmat.
Nikmat berupa kebutuhan fisik dan pancaindra tersebut pada dasarnya juga dimiliki makhluk hidup lainnya.
Lalu, apa yang membuat manusia memiliki kelebihan dibandingkan makhluk lain?
- Akal Menjadi Nikmat yang Mengangkat Derajat Manusia
Jawabannya adalah نِعْمَةُ الْعَقْلِ, yakni nikmat akal.
Dengan akal, manusia mampu berpikir, belajar, menemukan sesuatu yang baru, menciptakan teknologi dan mengembangkan peradaban.
Jika dahulu manusia bepergian dengan berjalan kaki, kemudian menemukan sepeda, kendaraan bermotor hingga pesawat terbang.
Semua itu merupakan hasil kemampuan manusia dalam menggunakan akalnya.
Bahkan makanan dan berbagai produk kehidupan yang kita nikmati sekarang juga lahir dari proses berpikir, kreativitas dan pengetahuan manusia.
Bandingkan dengan hewan yang tidak memiliki kemampuan berpikir seperti manusia.
Kambing, misalnya, dari masa ke masa tetap mencari dan memakan rumput sebagai makanan utamanya.
Tidak ada perkembangan teknologi yang membuat kambing menciptakan menu baru sebagaimana manusia.
Artinya, akal merupakan salah satu nikmat besar yang harus dijaga dan digunakan dengan sebaik-baiknya.
Namun, apakah akal saja sudah cukup untuk menjadi pedoman hidup manusia?
Ternyata belum.
- Agama Menjadi Penuntun agar Akal Tidak Tersesat
Nikmat berikutnya yang memiliki kedudukan sangat penting adalah نِعْمَةُ الدِّيْنِ, yakni nikmat agama.
Manusia boleh memiliki kecerdasan tinggi, kreativitas luar biasa dan kemampuan menciptakan berbagai teknologi.
Namun, tanpa iman dan agama, kemampuan tersebut dapat membuat manusia kehilangan arah.
Akal dapat membantu manusia menjawab bagaimana sesuatu bekerja.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana manusia berasal, untuk apa hidup di dunia dan ke mana manusia akan kembali?
Di sinilah agama memberikan jawaban.
Melalui iman dan Islam, manusia memahami bahwa dirinya berasal dari Allah SWT dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Setiap perbuatan juga memiliki konsekuensi dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah SWT berfirman: قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, pasti akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah perjalanan tanpa tujuan.
Ada awal, ada akhir, dan ada pertanggungjawaban atas setiap amal yang dilakukan.
Kemerdekaan Indonesia Juga Merupakan Nikmat
Di antara berbagai nikmat yang patut disyukuri, kemerdekaan Republik Indonesia menjadi salah satu nikmat besar yang dirasakan oleh masyarakat hingga hari ini.
Kemerdekaan yang lahir pada 17 Agustus 1945 tidak datang begitu saja. Ada pengorbanan panjang yang dilakukan para pejuang untuk membebaskan bangsa dari penjajahan.
Mereka mempertaruhkan harta, tenaga, pikiran bahkan nyawa tanpa mengetahui apakah mereka sendiri akan menikmati hasil perjuangannya.
Karena itu, memperingati kemerdekaan seharusnya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial.
Di dalamnya terdapat kewajiban moral untuk mengenang jasa para pendahulu dan mensyukuri kebebasan yang telah diwariskan.
Rasa terima kasih kepada manusia juga menjadi bagian penting dari syukur.
Sebab, seseorang yang tidak mampu menghargai kebaikan sesama manusia juga perlu mempertanyakan sejauh mana dirinya memahami makna bersyukur kepada Allah SWT.
Meneladani Pengorbanan Para Pahlawan
Para pejuang kemerdekaan memberikan contoh bahwa sesuatu yang besar membutuhkan pengorbanan.
Mereka tidak hanya berbicara tentang cita-cita, tetapi berani mempertaruhkan segala sesuatu yang dimiliki demi kepentingan bangsa.
Semangat tersebut patut menjadi teladan bagi generasi sekarang.
Jika para pendahulu berjuang dengan senjata, tenaga dan pengorbanan jiwa, generasi hari ini memiliki medan perjuangan yang berbeda.
Anak muda dapat meneruskan perjuangan melalui pendidikan, pekerjaan yang jujur, kepedulian sosial, menjaga persatuan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan melakukan berbagai kebaikan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi para pejuang yang telah gugur, sudah sepatutnya kita mendoakan agar segala amal kebaikan mereka diterima oleh Allah SWT dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
Tugas Generasi Sekarang Melanjutkan Cita-cita Pendahulu
Kemerdekaan memberikan kesempatan kepada generasi setelah para pejuang untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, generasi muda tidak semestinya hanya menikmati hasil perjuangan pendahulu tanpa berusaha meneruskan cita-cita mereka.
Ada sebuah ungkapan: لَا يَصْلُحُ أَمْرُ هٰذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Urusan umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang membuat baik generasi pendahulunya.”
Pesan tersebut mengingatkan bahwa kebaikan yang dirasakan hari ini tidak terlepas dari kebaikan dan perjuangan orang-orang terdahulu.
Jika dahulu para pahlawan berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka tugas generasi sekarang adalah menjaga dan mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat.
Syukur Bukan Hanya Diucapkan
Lantas, bagaimana cara mensyukuri kemerdekaan?
Syukur tidak cukup hanya dengan mengucapkan alhamdulillah.
Syukur juga harus diwujudkan melalui tindakan, yakni menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang baik.
Ketika seseorang mendapatkan pakaian, misalnya, pakaian tersebut digunakan sebagaimana mestinya untuk menutup aurat dan menunjang aktivitas yang baik.
Itulah salah satu bentuk penggunaan nikmat sesuai dengan manfaatnya.
Demikian pula dengan kemerdekaan.
Kemerdekaan tidak seharusnya digunakan untuk melakukan tindakan yang merusak persatuan, menebarkan kebencian atau merugikan sesama.
Sebaliknya, kemerdekaan harus diisi dengan amal saleh, kerja keras, pendidikan, kepedulian dan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan begitu, rasa syukur tidak hanya berhenti di bibir, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan.
Allah SWT telah memberikan janji: لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa nikmat yang diterima manusia seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan.
Mengisi Kemerdekaan dengan Kebaikan
Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga menjadi amanah yang harus dijaga dan diisi dengan kebaikan.
Masyarakat dapat menjaga kemerdekaan dengan memperkuat persaudaraan, menghormati perbedaan, menaati aturan, bekerja dengan jujur, membantu sesama dan membangun lingkungan yang lebih baik.
Para generasi muda juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa pengorbanan para pendahulu tidak menjadi sia-sia.
Sebab, nikmat yang kita rasakan hari ini merupakan hasil dari perjuangan panjang generasi sebelumnya.
Harapan akhirnya tentu bukan hanya Indonesia yang merdeka secara politik, tetapi juga bangsa yang hidup dalam ketenteraman, kesejahteraan, keadilan dan keberkahan.
Sebagaimana ungkapan dalam Al-Qur’an: بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُوْرٌ
“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.”
Kemerdekaan, dengan demikian, bukan hanya sesuatu yang layak dirayakan setiap bulan Agustus.
Ia adalah nikmat yang harus disyukuri, amanah yang harus dijaga, serta warisan perjuangan yang harus diteruskan dengan amal dan kebaikan. (kangtop)












