Banyak Orang Baru Sadar Setelah Memikirkannya, Inilah Alasan Mengapa Allah Adalah Sumber Segala Kehidupan

Religi40 Dilihat

KONCOdewe.com – Di tengah kesibukan mengejar urusan dunia, tidak sedikit manusia yang lupa pada pertanyaan paling mendasar dalam hidupnya.

Dari mana dirinya berasal, siapa yang menciptakannya, dan kepada siapa seluruh kehidupannya akan kembali.

Padahal, dalam ajaran Islam, mengenal Allah SWT merupakan langkah pertama yang harus ditempuh sebelum seseorang memahami berbagai ajaran agama lainnya.

Keimanan tidak lahir hanya karena warisan keluarga atau kebiasaan lingkungan.

Iman tumbuh dari kesadaran yang dibangun melalui hidayah Allah SWT, disertai kemauan manusia untuk berpikir, merenung, dan mencari kebenaran.

Karena itu, ma’rifatullah atau mengenal Allah menjadi fondasi utama yang akan menuntun seseorang menuju kehidupan yang lebih tenang, penuh keyakinan, dan memiliki arah yang jelas.

Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh petunjuk dari Allah SWT.

Hidayah merupakan anugerah yang membuka hati seseorang sehingga mampu menerima kebenaran, memahami tujuan hidup, dan menjalankan syariat dengan penuh kesadaran, bukan sekadar mengikuti tradisi.

Manusia Selalu Membutuhkan Pertolongan

Sejak lahir hingga akhir hayat, manusia tidak pernah benar-benar mampu hidup sendiri.

Dalam setiap fase kehidupannya, selalu ada kebutuhan yang hanya dapat dipenuhi dengan bantuan pihak lain.

Ketika seseorang mengalami kesulitan, kehilangan pekerjaan, sakit, atau kehabisan bekal dalam perjalanan, secara naluriah ia akan mencari orang yang mampu menolongnya.

Gambaran sederhana ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang penuh keterbatasan.

Jika kepada sesama manusia saja seseorang bergantung untuk memenuhi sebagian kebutuhannya, maka sudah sepatutnya ia menyadari bahwa seluruh pertolongan itu pada akhirnya berasal dari Allah SWT.

Semua rezeki, kesehatan, ilmu, kekuatan, dan kesempatan hidup tidak muncul dengan sendirinya.

Seluruhnya merupakan karunia Allah yang diberikan melalui berbagai sebab yang Dia ciptakan.

Kesadaran inilah yang melahirkan sikap tawakal, yaitu meyakini bahwa di balik setiap ikhtiar manusia terdapat kehendak Allah SWT yang menentukan hasil akhirnya.

Allah, Penyebab dari Segala Sebab

Dalam ajaran tauhid dikenal konsep musabbibul asbab, yaitu Allah SWT sebagai penyebab dari seluruh sebab yang ada di alam semesta.

Manusia terbiasa mencari penyebab dari setiap peristiwa.

Ketika terjadi kebakaran, orang akan menelusuri apakah penyebabnya berasal dari korsleting listrik, ledakan tabung gas, atau kelalaian manusia.

BACA:  Bukan Karena Allah Tak Bisa Dilihat, Inilah Sebab Sebenarnya Manusia Tidak Mampu Melihat-Nya

Begitu pula ketika seseorang jatuh sakit, ia akan mencari penyebabnya sebelum menentukan pengobatan.

Cara berpikir tersebut menunjukkan bahwa akal manusia secara alami memahami bahwa setiap akibat pasti memiliki sebab.

Lalu bagaimana dengan alam semesta yang begitu luas, teratur, dan penuh keteraturan?

Matahari yang terbit setiap hari, pergantian siang dan malam, peredaran planet, hingga kehidupan manusia yang berlangsung dengan sistem yang begitu sempurna tentu tidak mungkin terjadi tanpa penyebab pertama.

Islam mengajarkan bahwa penyebab utama dari seluruh keberadaan itu adalah Allah SWT.

Dialah Yang Maha Awal, tidak didahului oleh apa pun, dan Maha Akhir yang tidak berkesudahan.

Allah tidak bergantung kepada siapa pun, sedangkan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.

Akal Menjadi Jalan untuk Mengenal Sang Pencipta

Allah SWT menganugerahkan akal kepada manusia bukan hanya untuk mencari ilmu dunia, tetapi juga sebagai sarana mengenal kebesaran-Nya.

Melalui akal, manusia dapat mengamati keteraturan alam semesta, mempelajari berbagai fenomena kehidupan.

Kemudian menyimpulkan bahwa semua itu tidak mungkin tercipta secara kebetulan.

Semakin dalam seseorang mempelajari ciptaan Allah, semakin tampak pula kesempurnaan pengaturan-Nya.

Tubuh manusia bekerja dengan sistem yang luar biasa rumit, bumi berputar pada porosnya tanpa pernah meleset, dan seluruh makhluk hidup memiliki aturan yang saling berkaitan.

Semua itu menjadi tanda-tanda yang mengantarkan manusia kepada keyakinan bahwa ada Zat Yang Maha Mengatur seluruh alam semesta.

Karena itulah Islam sangat menghargai penggunaan akal yang sehat sebagai salah satu jalan untuk memperkuat keimanan.

Ketika Dunia Membuat Manusia Lupa kepada Allah

Kemajuan zaman membawa banyak kemudahan bagi kehidupan manusia.

Namun di sisi lain, berbagai kenikmatan dunia juga dapat membuat seseorang terlena hingga melupakan tujuan hidupnya.

Kesibukan mengejar kekayaan, jabatan, popularitas, dan berbagai kesenangan sering kali menyita seluruh perhatian sehingga manusia tidak lagi memiliki waktu untuk merenungkan asal-usul kehidupannya.

Para ulama tasawuf sejak dahulu telah mengingatkan bahwa kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat menumpulkan hati dan melemahkan kesadaran spiritual.

Ketika hati terlalu dipenuhi urusan dunia, manusia menjadi enggan merenung tentang kebesaran Allah SWT.

Bahkan tidak sedikit yang akhirnya mempertanyakan atau menolak keberadaan Tuhan karena lebih mengandalkan logika yang terputus dari petunjuk wahyu.

BACA:  Banyak Orang Tak Sadar, Kebiasaan Ini Membuat Hidup Sulit Berubah Meski Punya Waktu yang Sama

Padahal semakin jauh seseorang dari mengenal Allah, semakin mudah pula ia kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

Inti Ilmu Adalah Mengenal Allah

Dalam tradisi keilmuan Islam, tujuan tertinggi dari belajar bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, melainkan membawa manusia semakin dekat kepada Allah SWT.

Ilmu yang tidak mengantarkan kepada pengenalan terhadap Sang Pencipta dikhawatirkan hanya melahirkan kesombongan.

Sebaliknya, ilmu yang disertai keimanan akan melahirkan kerendahan hati, rasa syukur, dan kesadaran bahwa seluruh pengetahuan hanyalah bagian kecil dari ilmu Allah yang tidak terbatas.

Para ulama menjelaskan bahwa mengenal Allah dapat ditempuh melalui dua jalan utama.

Yang pertama ialah wahyu, yaitu Al-Qur’an yang menjelaskan sifat-sifat, kekuasaan, dan petunjuk dari Allah SWT.

Jalan kedua adalah melalui akal yang digunakan untuk merenungi seluruh ciptaan-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 190 bahwa pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.

Ayat tersebut mengajarkan bahwa alam semesta adalah kitab terbuka yang memperlihatkan kebesaran Sang Pencipta kepada siapa saja yang mau berpikir.

Mengenal Allah Menjadi Awal Perjalanan Hidup

Pada akhirnya, mengenal Allah bukan sekadar memahami konsep ketuhanan, melainkan menyadari bahwa seluruh kehidupan berada dalam kekuasaan-Nya.

Dialah penyebab dari segala sebab, tempat bergantung seluruh makhluk, sekaligus tujuan akhir dari perjalanan manusia.

Ketika seseorang benar-benar mengenal Allah SWT, ia akan lebih mudah menerima takdir, bersabar dalam menghadapi ujian.

Tidak mudah putus asa ketika kehilangan, dan tidak berlebihan saat memperoleh kenikmatan.

Seluruh hidupnya akan dipenuhi rasa syukur, tawakal, dan keyakinan bahwa setiap peristiwa mengandung hikmah yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Bijaksana.

Karena itu, ma’rifatullah merupakan pintu utama menuju keimanan yang kokoh.

Semakin dalam seseorang mengenal Allah SWT melalui wahyu dan perenungan atas ciptaan-Nya, semakin kuat pula keyakinannya.

Bahwa tidak ada satu pun yang terjadi di alam semesta ini tanpa kehendak dan pengaturan dari Sang Musabbibul Asbab, Allah SWT. (kangtop)