Manusia Berusaha, Allah Memiliki Kekuasaan Mutlak

Religi71 Dilihat

KONCOdewe.com – Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari usaha, harapan, rencana, dan berbagai ujian yang terkadang datang di luar perkiraan.

Setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, mengembangkan kemampuan, membangun kehidupan yang lebih baik, serta memperjuangkan cita-cita.

Namun, sebesar apa pun kemampuan manusia, tetap ada batas yang tidak dapat dilampaui.

Tidak semua keinginan bisa diwujudkan, tidak setiap rencana berjalan sesuai harapan, dan tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri.

Di sinilah manusia perlu memahami kedudukan dirinya sebagai makhluk yang memiliki kewajiban untuk berusaha, tetapi tidak mempunyai kekuasaan mutlak atas seluruh kejadian di alam semesta.

Manusia dapat menyusun rencana dengan cermat, menggunakan ilmu pengetahuan, memanfaatkan teknologi, serta mengerahkan tenaga dan pikiran.

Akan tetapi, hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan dan kekuasaan Allah SWT.

Kesadaran tersebut bukan alasan untuk berhenti berjuang.

Sebaliknya, keyakinan kepada Allah semestinya membuat manusia semakin bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan, sekaligus menyadari bahwa keberhasilan bukan semata-mata hasil kemampuan pribadi.

Ada banyak hal yang berada di luar jangkauan manusia, sehingga setiap pencapaian sepatutnya disertai rasa syukur dan setiap kegagalan dihadapi dengan kesabaran.

Allah Memiliki Kekuasaan atas Segala Sesuatu

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering merasa mampu mengendalikan keadaan ketika segala sesuatu berjalan sesuai rencana.

Kekayaan yang bertambah, usaha yang berkembang, jabatan yang meningkat, atau cita-cita yang berhasil diraih terkadang membuat seseorang lupa bahwa semua kemampuan tersebut memiliki batas.

Padahal, manusia tidak dapat memastikan seluruh kejadian yang akan berlangsung pada masa depan.

Seseorang bisa merencanakan perjalanan, tetapi tidak mengetahui seluruh keadaan yang akan ditemuinya.

Seorang pengusaha dapat menyusun strategi dengan matang, tetapi tidak mampu menjamin bahwa usahanya akan selalu berhasil.

Demikian pula, seseorang dapat menjaga kesehatan dan menjalani pola hidup yang baik, tetapi tetap tidak mempunyai kendali mutlak atas seluruh keadaan tubuhnya.

Islam mengajarkan bahwa kekuasaan tertinggi berada di tangan Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran ayat 26:

لَكَ الْمُلْكُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Milik Engkaulah segala kerajaan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran: 26, bagian akhir ayat).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh kemampuan manusia.

Apa yang dimiliki manusia, termasuk kedudukan, kekayaan, pengetahuan, dan kesempatan hidup, pada hakikatnya merupakan karunia yang harus digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Karena itu, manusia tidak semestinya menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk menyombongkan diri.

Sebaliknya, semakin besar kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya bagi kemaslahatan, bukan untuk merendahkan atau merugikan orang lain.

Berusaha Merupakan Bagian dari Tanggung Jawab Manusia

Memahami kekuasaan mutlak Allah bukan berarti manusia harus menyerah pada keadaan.

Islam justru mendorong manusia untuk berusaha, bekerja, mencari ilmu, dan melakukan perbaikan sesuai kemampuan yang dimiliki.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Najm ayat 39:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

Artinya: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).

Ayat ini menegaskan pentingnya usaha manusia. Seseorang tidak cukup hanya berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik tanpa melakukan langkah nyata.

Keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik perlu diwujudkan melalui kebiasaan yang baik, kedisiplinan, kesediaan belajar, dan keberanian memperbaiki kesalahan.

Begitu pula ketika menghadapi persoalan keluarga, pekerjaan, pendidikan, atau kehidupan bermasyarakat.

Manusia perlu menggunakan akal sehat, mencari informasi yang benar, meminta nasihat kepada orang yang tepat, serta menentukan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Petani perlu mengolah tanah dan merawat tanaman. Pedagang perlu menjaga kualitas barang serta kejujuran dalam transaksi.

Pelajar perlu belajar dengan sungguh-sungguh. Pemimpin perlu menjalankan amanah secara adil. Setiap orang memiliki ruang ikhtiar sesuai kedudukan dan kemampuannya.

Hasil dari usaha tersebut memang tidak selalu sesuai dengan harapan. Namun, ketidakpastian hasil bukan alasan untuk mengabaikan kewajiban.

Manusia bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan yang dilakukannya, sedangkan hasil akhir tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh dirinya.

Dengan demikian, keyakinan kepada Allah seharusnya melahirkan keseimbangan antara kesungguhan berusaha dan kesadaran akan keterbatasan.

Jangan Menyamakan Tawakal dengan Pasrah Tanpa Usaha

Salah satu hal penting dalam menjalani kehidupan adalah memahami perbedaan antara tawakal dan sikap menyerah sebelum berjuang.

Tawakal bukan berarti menunggu pertolongan Allah tanpa melakukan apa pun.

Tawakal merupakan sikap bersandar kepada Allah setelah menjalankan ikhtiar yang patut, disertai keyakinan bahwa manusia tidak memiliki kendali mutlak atas hasilnya.

Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159, Allah SWT berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159, bagian akhir ayat).

Urutan pesan dalam ayat tersebut memberikan pelajaran penting. Manusia diperintahkan untuk mengambil keputusan dan membulatkan tekad, kemudian bertawakal kepada Allah.

Artinya, kepercayaan kepada Allah tidak menghapus kebutuhan untuk berpikir, mempertimbangkan pilihan, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Seseorang yang sedang mencari pekerjaan tetap perlu menyiapkan kemampuan dan mengirimkan lamaran.

Orang yang menghadapi persoalan kesehatan perlu mencari pertolongan medis yang sesuai.

Mereka yang ingin membangun usaha perlu memahami pasar, menghitung risiko, dan menjaga kualitas produk atau layanan.

Setelah ikhtiar dilakukan, manusia perlu menerima bahwa ada bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipaksakan.

Jika hasilnya baik, ia bersyukur. Jika belum sesuai harapan, ia mengevaluasi langkahnya, memperbaiki kekurangan, dan kembali berusaha selama jalan yang ditempuh masih baik serta memungkinkan.

Sikap seperti ini membantu manusia terhindar dari dua keadaan yang tidak sehat, yakni merasa mampu mengendalikan segala sesuatu dan merasa tidak mampu melakukan apa pun.

Ilmu Pengetahuan Membantu Manusia, tetapi Tidak Menjadikannya Mahakuasa

BACA:  Takwa Bukan Sekadar Takut kepada Allah, Ini Makna dan 3 Karunia Besarnya

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa banyak manfaat.

Manusia dapat berkomunikasi dalam hitungan detik, memperoleh informasi dengan cepat, mengembangkan pengobatan, meningkatkan produktivitas, dan mempermudah berbagai pekerjaan.

Kemajuan tersebut patut disyukuri karena dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas hidup.

Namun, kemajuan teknologi tidak berarti manusia telah menguasai seluruh rahasia kehidupan.

Semakin luas pengetahuan yang diperoleh, semakin banyak pula hal yang dapat dipelajari dan dipahami dengan lebih mendalam.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 85:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Artinya: “Sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85, bagian akhir ayat).

Ayat tersebut mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam kesombongan intelektual.

Pengetahuan yang dimiliki seseorang, setinggi apa pun pendidikannya, tidak membuatnya mengetahui segala hal.

Karena itu, ilmu semestinya menumbuhkan kerendahan hati.

Orang yang berilmu seharusnya semakin terbuka terhadap bukti, bersedia menerima koreksi, dan tidak mudah menganggap dirinya selalu benar.

Dalam kehidupan sosial, sikap ini sangat penting. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan.

Kesalahan informasi perlu diperbaiki berdasarkan fakta. Kebijakan yang kurang tepat perlu dievaluasi.

Teknologi harus digunakan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia dan lingkungan.

Manusia memang diberi kemampuan untuk berpikir dan mengembangkan pengetahuan.

Namun, kemampuan itu merupakan amanah yang perlu digunakan secara bijaksana, bukan alat untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Salat Tetap Menjadi Kewajiban, Akhlak Tetap Harus Diperbaiki

Kesadaran bahwa Allah memiliki kekuasaan mutlak juga perlu tercermin dalam hubungan manusia dengan ibadah.

Salat merupakan kewajiban seorang Muslim yang tidak semestinya ditinggalkan hanya karena dirinya masih mempunyai kekurangan dalam perilaku.

Ada orang yang merasa belum pantas menjalankan ibadah karena masih sering melakukan kesalahan.

Ada pula yang beranggapan bahwa ibadah saja sudah cukup, meskipun perilakunya terhadap sesama masih merugikan. Kedua pandangan tersebut perlu diluruskan.

Salat merupakan bentuk penghambaan kepada Allah, sedangkan kejujuran, amanah, keadilan, dan kepedulian merupakan bagian penting dari tanggung jawab seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Ibadah tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengabaikan hak orang lain, sebagaimana kekurangan dalam akhlak tidak seharusnya dijadikan alasan untuk meninggalkan salat.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 45:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45, bagian dari ayat).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa salat memiliki hubungan dengan pembentukan perilaku.

Pelaksanaan salat semestinya mendorong seseorang untuk semakin sadar akan tanggung jawabnya, menjaga ucapan, menghindari perbuatan buruk, dan memperbaiki hubungannya dengan orang lain.

Namun, perubahan akhlak tidak selalu berlangsung seketika. Seseorang mungkin masih harus berjuang mengendalikan amarah, menghilangkan kebiasaan buruk, atau belajar bersikap lebih jujur.

Hal itu bukan alasan untuk meninggalkan ibadah. Justru ibadah perlu terus dijaga sambil diiringi usaha nyata untuk memperbaiki perilaku.

Dengan demikian, hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama perlu dibangun secara seimbang.

Kesalehan tidak hanya terlihat dari apa yang dilakukan ketika beribadah, tetapi juga dari bagaimana seseorang menunaikan amanah dan memperlakukan orang lain.

Jabatan dan Kekayaan Bukan Bukti Kekuasaan Mutlak

Dalam kehidupan sosial, jabatan dan kekayaan sering kali dipandang sebagai simbol keberhasilan.

Keduanya memang dapat memberikan kesempatan lebih besar untuk memengaruhi keadaan, mengambil keputusan, dan membantu banyak orang.

Akan tetapi, kedudukan tersebut tidak menjadikan manusia bebas dari batas. Pemimpin tetap harus tunduk pada aturan dan bertanggung jawab atas kebijakannya.

Orang kaya tetap membutuhkan orang lain dan tidak dapat membeli semua hal yang diinginkan.

Orang yang memiliki kekuasaan tetap tidak dapat memastikan bahwa seluruh keadaan akan selalu berjalan sesuai kehendaknya.

Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak bersikap sombong. Dalam Surah Luqman ayat 18, Allah SWT berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).

Pesan tersebut relevan bagi siapa pun, baik yang memiliki jabatan tinggi maupun yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kedudukan seharusnya membuat seseorang lebih memahami tanggung jawabnya, bukan merasa lebih berhak merendahkan orang lain.

Kekuasaan yang digunakan secara bijaksana dapat menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Sebaliknya, kekuasaan yang disertai kesombongan berpotensi melahirkan ketidakadilan dan menyakiti orang-orang yang berada di bawah kewenangannya.

Karena itu, semakin besar tanggung jawab yang diberikan kepada seseorang, semakin penting pula baginya untuk menjaga kejujuran, membuka diri terhadap kritik, dan menyadari bahwa setiap amanah harus dipertanggungjawabkan.

Waktu Adalah Kesempatan untuk Memperbaiki Diri

Manusia juga mempunyai keterbatasan dalam mengelola waktu. Hari yang telah berlalu tidak dapat diulang, sementara masa depan tidak sepenuhnya diketahui.

Oleh sebab itu, waktu menjadi salah satu anugerah yang perlu digunakan dengan bijaksana.

Tidak semua orang memulai kehidupan dari keadaan yang sama.

Ada yang memiliki kesempatan belajar lebih luas, ada yang harus bekerja sejak muda, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk bangkit dari kegagalan.

Perbedaan keadaan tersebut menuntut manusia untuk tidak mudah menghakimi perjalanan hidup orang lain.

Yang lebih penting adalah bagaimana setiap orang menggunakan kesempatan yang masih dimilikinya.

Kesalahan masa lalu dapat menjadi pelajaran. Kegagalan dapat menjadi bahan evaluasi. Perselisihan dapat menjadi kesempatan untuk belajar meminta maaf dan memperbaiki hubungan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3 bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Pesan Surah Al-‘Asr menunjukkan bahwa kehidupan tidak cukup hanya diisi dengan mengejar keberhasilan duniawi.

Waktu perlu dimanfaatkan untuk memperkuat iman, melakukan kebaikan, menjaga kebenaran, dan saling menguatkan dalam menghadapi kesulitan.

BACA:  Jika Ingin Hidup Berkah, Mulailah dari Cara Memperlakukan Orang Tua

Tidak harus menunggu memiliki banyak harta untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu menduduki jabatan tinggi untuk bersikap jujur.

Bahkan, langkah sederhana seperti menepati janji, membantu orang yang membutuhkan, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, dan menjaga lisan merupakan bagian dari penggunaan waktu secara bertanggung jawab.

Selama kesempatan masih tersedia, manusia masih dapat memperbaiki langkah dan menambah amal kebaikan.

Kesabaran Menghadapi Hasil yang Tidak Sesuai Harapan

Dalam menjalani ikhtiar, tidak semua hasil dapat diperoleh dengan cepat.

Ada usaha yang membutuhkan waktu bertahun-tahun, ada doa yang belum terwujud sesuai harapan, dan ada persoalan yang harus diselesaikan secara bertahap.

Keadaan tersebut dapat menguji kesabaran. Ketika hasil belum terlihat, manusia mungkin merasa lelah, kecewa, atau mulai meragukan kemampuannya sendiri.

Namun, kesulitan tidak selalu berarti bahwa seluruh usaha yang telah dilakukan sia-sia.

Kesabaran bukan berarti menutup mata terhadap masalah atau terus bertahan dalam keadaan yang merugikan tanpa mencari jalan keluar.

Kesabaran berarti menjaga keteguhan, mengendalikan diri, dan tetap memilih tindakan yang baik ketika menghadapi ujian.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153, bagian akhir ayat).

Ayat ini menjadi pengingat bagi manusia agar tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi kesulitan.

Kesabaran perlu disertai ikhtiar yang tepat, evaluasi, dan kesediaan untuk belajar dari keadaan.

Jika suatu cara tidak berhasil, manusia dapat mempertimbangkan cara lain yang lebih baik.

Jika melakukan kesalahan, ia perlu mengakuinya dan memperbaiki dampaknya.

Jika menghadapi persoalan yang terlalu berat untuk diselesaikan sendiri, ia dapat meminta bantuan kepada orang yang kompeten dan dapat dipercaya.

Dengan cara tersebut, kesabaran tidak berubah menjadi kepasrahan yang pasif.

Sebaliknya, kesabaran menjadi kekuatan untuk terus berusaha tanpa kehilangan akhlak dan keyakinan kepada Allah.

Mengakui Keterbatasan Bukan Berarti Berhenti Berkembang

Ada perbedaan antara menyadari keterbatasan dan membatasi diri secara berlebihan.

Menyadari keterbatasan berarti memahami bahwa manusia tidak mengetahui dan tidak mampu mengendalikan segala sesuatu.

Sementara itu, membatasi diri secara berlebihan berarti menolak berusaha hanya karena takut menghadapi kegagalan.

Islam mengajarkan keseimbangan. Manusia perlu mengenali kemampuan dirinya, tetapi juga tetap belajar untuk mengembangkannya.

Seseorang tidak harus mengetahui seluruh jawaban sebelum memulai sesuatu. Ia dapat memulai dari hal yang dikuasai, meminta arahan, dan memperbaiki kemampuan secara bertahap.

Dalam proses tersebut, kerendahan hati menjadi bekal penting.

Orang yang rendah hati tidak malu mengakui kesalahan, tidak menganggap dirinya paling benar, dan tidak merasa kehilangan harga diri ketika harus belajar dari orang lain.

Kesadaran akan kekuasaan Allah juga membantu manusia mengurangi keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu.

Ia tetap merencanakan masa depan, tetapi tidak menjadikan rencana sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan.

Ia tetap berjuang meraih keberhasilan, tetapi tidak menghalalkan segala cara.

Ia menerima kenyataan yang tidak dapat diubah, sembari berusaha memperbaiki hal-hal yang masih berada dalam jangkauannya.

Sikap seperti inilah yang membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih tenang, bertanggung jawab, dan tidak mudah terjebak dalam kesombongan maupun keputusasaan.

Menjadikan Ikhtiar sebagai Bentuk Syukur

Kemampuan untuk berpikir, bekerja, belajar, dan mengambil keputusan merupakan karunia yang patut disyukuri.

Rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi juga perlu diwujudkan melalui penggunaan kemampuan secara bertanggung jawab.

Orang yang diberi ilmu dapat membagikan pengetahuan yang bermanfaat. Orang yang memiliki rezeki lebih dapat membantu sesama sesuai kemampuannya.

Orang yang diberi jabatan dapat menggunakan kewenangannya untuk menegakkan keadilan.

Sementara itu, mereka yang belum memiliki banyak kesempatan tetap dapat berbuat baik melalui kejujuran, ketekunan, dan kepedulian.

Syukur juga berarti tidak meremehkan kesempatan kecil. Perubahan besar sering kali dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Memperbaiki satu kebiasaan buruk, menambah pengetahuan sedikit demi sedikit, menjaga ibadah, dan menunaikan kewajiban merupakan langkah yang dapat membentuk kehidupan menjadi lebih baik.

Manusia memang tidak mempunyai kekuasaan mutlak atas hasil akhir.

Namun, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk memilih tindakan, menjaga niat, dan menggunakan kesempatan yang tersedia sebaik mungkin.

Pada akhirnya, keyakinan bahwa Allah Mahakuasa semestinya membuat manusia semakin rendah hati sekaligus semakin kuat dalam berusaha.

Ia tidak menyombongkan keberhasilan karena menyadari adanya karunia Allah, dan tidak langsung menyerah ketika menghadapi kegagalan karena memahami bahwa ikhtiar tetap menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

Berusaha dengan Sungguh-Sungguh, Berserah Diri dengan Hati yang Lapang

Kehidupan mengajarkan bahwa manusia perlu berjalan di antara dua kesadaran: kesadaran untuk berusaha dan kesadaran akan keterbatasan diri.

Tanpa usaha, harapan mudah berubah menjadi angan-angan. Tanpa kerendahan hati, keberhasilan dapat menumbuhkan kesombongan.

Sementara itu, tanpa kesabaran, manusia mudah kehilangan arah ketika kenyataan tidak sesuai dengan rencana.

Keyakinan kepada Allah SWT bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab, melainkan landasan untuk menjalankan tanggung jawab dengan lebih baik.

Manusia tetap perlu bekerja, belajar, menjaga kesehatan, menunaikan salat, memperbaiki akhlak, serta membantu sesama sesuai kemampuannya.

Pada saat yang sama, manusia perlu menerima bahwa tidak seluruh perkara dapat dikendalikan.

Ada hasil yang membutuhkan waktu, ada rencana yang perlu diubah, dan ada kenyataan yang harus diterima setelah berbagai ikhtiar dilakukan.

Karena itu, tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna untuk mulai memperbaiki diri.

Mulailah dari kewajiban yang belum tertunaikan, kebiasaan yang perlu diperbaiki, amanah yang harus diselesaikan, dan kesempatan berbuat baik yang masih terbuka.

Manusia bertugas berusaha dengan sungguh-sungguh, menjaga niat, dan bertanggung jawab atas tindakannya. Adapun kekuasaan mutlak atas segala sesuatu adalah milik Allah SWT.

Dengan memahami keduanya, manusia dapat menjalani kehidupan dengan lebih rendah hati, tekun dalam ikhtiar, sabar menghadapi ujian, dan bersyukur atas setiap kesempatan yang diberikan. (kangtop)